Tampilkan postingan dengan label OPT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OPT. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Agustus 2022

Residu Pestisida Pada Pangan Yang Perlu Anda Ketahui

  Baaofficial - Pestisida pada umumnya adalah semua bahan beracun yang digunakan untuk membunuh organisme yang mengganggu tanaman, dan sebagainya . Pestisida dapat dikelompokkan berdasarkan jenis target, bentuk fisik, bentuk formulasi, cara kerjanya, cara masuk, kelompok senyawa, dan asal atau bahan aktif. 


Residu Pestisida
images by pixabay


Berdasarkan jenis pestisida dapat dibagi menjadi:

1. Insektisida : Target Jenis Serangga

2. Akarisida : Target Tungau

3. Fungisida : Target Jenis Jamur

4. Nematisida : target tipe nematoda

5. Bakterisida : Target Jenis Bakteri

6. Molluskisida : Target Mollusk (Siput)

7. Termisida : Target Jenis Rayap

8. Herbisida : Target Jenis Gulma

9. Rodentisida : Target tikus


Jika dilihat dari bentuknya, pestisida dapat dibagi menjadi :

1. Pestisida cair

2. Padat

3. Aerosol. 


Sedangkan jika dibedakan dari bentuk formulasi dibagi menjadi granul atau granul pestisida, bubuk atau tepung, EC (konsentrat yang dapat diemban/dapat diemulsi), AS, dan beberapa kode formulasi lainnya yang tidak perlu menambahkan air dan dapat diterapkan langsung di lapangan seperti umpan atau pelet.





Berdasarkan cara kerja pestisida yang dikelompokkan ke dalam:


1. Kelompok IGR dengan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan

2. Racun saraf, yaitu dengan mengganggu fungsi saraf mempercepat kematian

3. Mempengaruhi fungsi enzim

4 . Mempengaruhi perilaku, dan lainnya.


Berdasarkan cara masuk ke target, pestisida dikelompokkan ke dalam:

1. Kontak racun, artinya pestisida dalam hal ini senyawa/bahan aktif masuk ke kontak atau memasuki tubuh serangga melalui dinding tubuh atau kutikula.

2. Racun perut, yang berarti bahwa bahan senyawa/aktif memasuki tubuh serangga melalui proses makan (mulut) dan memasuki tubuh melalui polusi.

3. Racun sistemik, senyawa/bahan aktif diserap oleh tanaman dan kemudian diangkut ke semua jaringan tanaman.

4. Fumigan, yang berarti bahwa materi senyawa/aktif memasuki badan target melalui sistem pengemasan.


Berdasarkan asal bahan aktif, pestisida dapat diklasifikasikan sebagai:


1. Sintetis 

a. Anorganik

Garam beracun seperti arsenik, flourid, tembaga sulfat dan garam merkuri. . 

Organik Organo Chlorine: DDT, BHC, Endrin, Dieldrin, dan lainnya. 

Heterocyclic: Kepone, Mirex, dan lainnya. 

Organofosfat: Chlorpirifos, Prefoonfos, dan lainnya. 

Carbamat: Carbofuran, BPMC, dan lainnya. 

Dinitrofenol: Dinex, dan lainnya. . 

Thiosianat: Lethane, dan lainnya. . 

Lainnya: Methylbromide, dan lainnya.


b. Produk Alami (Biopestisida)

Nikotinoid, Pyrethroida, Rotenoids dan lainnya.


Residu Pestisida
image credits by pixabay


Risiko kontaminasi pestisida untuk kesehatan

Penggunaan pestisida dalam kehidupan sehari -hari sangat luas. Tinja dapat digunakan di berbagai sektor kehidupan seperti pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, dan kehutanan. Di gudang seperti dalam komoditas makanan, arsip, dan toko -toko juga menangkap pestisida. Selain penggunaan pestisida juga dapat ditemukan di tempat -tempat umum seperti Hotel | pondok | resor, restoran, kebun, juga di rumah tangga. 


Meskipun penggunaan pestisida, tujuan utama adalah untuk kesejahteraan manusia, tetapi di sisi lain pestisida ini dapat secara signifikan menyebabkan kerusakan pada manusia misalnya melalui kejadian keracunan pestisida pada manusia. Kematian yang disebabkan oleh keracunan pestisida jarang dilaporkan, yang secara luas diterbitkan terutama terkait dengan penyalahgunaan pestisida, yaitu untuk bunuh diri.


Saat ini berbagai jenis pestisida telah diproduksi dengan upaya untuk mengurangi efek samping yang dapat menyebabkan berkurangnya toksisitas pada manusia, tetapi sangat beracun bagi target. Namun, ketika terhubung dengan pelestarian lingkungan, penggunaan pestisida harus diawasi karena akan membahayakan kesehatan bagi manusia atau makhluk hidup lainnya.


Pestisida dapat memasuki tubuh manusia secara langsung dan tidak langsung. Proses masuknya pestisida secara langsung, yaitu secara oral melalui mulut dan sistem pencernaan, kulit melalui kulit, melalui pernapasan (hidung dan sistem pernapasan) dan melalui mata. Sementara masuknya pestisida ke dalam tubuh manusia secara tidak langsung masuk melalui makanan atau minuman yang dikonsumsi oleh manusia.


Keracunan akibat pestisida pada manusia biasanya terjadi karena kurangnya pengetahuan manusia tentang pestisida dan asumsi bahwa pestisida hanya akan membunuh hama tanaman, bukan manusia. Selain itu, kondisi kesehatan yang buruk ketika menerapkan pestisida juga bisa menjadi penyebab keracunan. Kondisi kesehatan yang buruk berdampak pada penurunan konsentrasi dan ini sangat berbahaya ketika harus menghubungi dengan bahan beracun. Yang sering terjadi adalah keracunan pestisida karena hati -hati dalam aplikasi pestisida, merasakan tidak ada yang terjadi ketika menerapkan pestisida sehingga pelaku tidak memakai kelengkapan yang disarankan dan tidak mengikuti instruksi aplikasi.


Gejala -gejala yang sering terjadi ketika seseorang beracun pestisida, antara lain, lesu dan lelah, sakit kepala, pusing, mual, kejang, muntah, tubuh terasa gemetar, penglihatan kabur, air liur yang berlebihan, kesulitan bernapas, mata terasa gatal, diare, dan pingsan. Gejala yang muncul bervariasi antara manusia, tergantung pada kondisi masing -masing dan keparahan keracunan.


Beberapa cara memberikan pertolongan pertama dalam kasus keracunan karena pestisida meliputi:


1. Jika pestisida ditelan, cobalah muntah, berikan karbon aktif (norit) dan bawa ke dokter segera.

2. Jika pestisida menabrak kulit maka segera bersihkan bagian yang dipengaruhi oleh pestisida menggunakan sabun dan bilas berulang kali.

3. Jika pestisida menabrak mata maka cuci mata dengan air mengalir, tutupi mata dengan air bersih dan segera pergi ke dokter jika masih sakit.

4. Jika pestisida masuk melalui saluran pernapasan, menjauhlah dari sumber racun, kendurkan pakaian untuk membantu bernafas dan segera ke dokter jika terasa lebih serius.


Fakta dampak paparan pestisida terhadap kesehatan manusia


1. Residu pestisida mempengaruhi kesehatan manusia dalam jangka panjang

2. Residu pestisida dapat menyebabkan kanker, cacat lahir, dan merusak atau mengganggu sistem saraf, endokrin, reproduksi dan kekebalan

3. Pestisida anti -drogen menyebabkan perubahan orientasi seksual

4. Anak -anak yang terpapar pestisida memiliki stamina dan kurangnya perhatian, ingatan dan koordinasi tangan yang terganggu dan semakin sulit untuk membuat gambar garis sederhana.


Residu Pestisida
image credits by pixabay


Tips untuk memilih makanan segar untuk meminimalkan pestisida


1. Beli makanan segar yang sudah memiliki sertifikat jaminan keamanan pangan. Produk makanan segar dari tanaman yang aman untuk dikonsumsi adalah yang sudah memiliki izin dan logo distribusi sebagai berikut:

2. Hindari membeli jenis makanan dari tempat yang sama

3. Menanam sayuran dan buah -buahan di sekitar rumah

4. Mencuci sayuran dan buah sebelum dinikmati karena dapat mengurangi efek pestisida. Mencuci dengan air mengalir diikuti dengan pengupasan dan perebusan dapat mengurangi residu pestisida dalam sayuran dan buah. Tetapi dalam beberapa jenis sayuran dan buah, tindakan mendidih dapat merusak tekstur sayuran dan buah.

sayuran sehat
image credits by pixabay







Sabtu, 20 Agustus 2022

CARA PERBANYAKAN AGENS HAYATI PAENIBACILLUS POLYMYXA DAN TRICHODERMA HARZIANUM

Baaofficial - OPT atau Organisme Penganggu Tumbuhan adalah semua organisme yang dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman utama termasuk didalamnya adalah, hama, penyakit, dan gulma. Apabila tanaman tersebut menjadi tempat hidup atau tempat berkembangbiaknya OPT maka tanaman tersebut akan mengalami kerusakan karena OPT dan menjadikan potensi hasil tanaman berkurang.

OPT pada tanaman jagung

Organisme Penggangu Tanaman (OPT) merupakan sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh petani dalam berbudidaya pertanian. Hal ini harus menjadi perhatian khusus bagi para petani dalam meningkatkan keberlanjutan produksi pertanian sehingga mendapatkan potensi hasil yang maksimal.

Pengendalian OPT terdapat beberapa metode, yaitu :

1. Pengendalian secara Fisik

2. Pengendalian secara Mekanis

3. Pengendalian secara Kultur Teknis

4. Pengendalian secara Kimiawi

5. Pengendalian secara Biologi (Hayati)


Nah kali ini mimin akan membahas pengendalian secara biologi/hayati. Apa itu pengendalian secara biologi dan apa saja contohnya ???

Pengendalian secara biologi adalah salah satu cara pengendalian Organisme Penggangu Tumbuhan (OPT) oleh musuh alami atau agen hayati. Sedangkan agens hayati itu sendiri merupakan subspecies, spesies, varietas, semua jenis protozoa, serangga, bakteri, cendawan, virus serta organisme lainnya yang dalam tahap perkembangannya bisa dipergunakan untuk keperluan pengendalian hama dan penyakit atau organisme pengganggu tumbuhan.

Agen hayati yang banyak digunakan yaitu Paenibacillus polymyxa dan Trichoderma Harzianum. selanjutnya kita akan membahas cara perbanyakan kedua agens hayati ini..

A. Perbanyakan Paenibacillus polymyxa

(1)     Pembuatan media cair Ekstrak Kentang Gula (EKG)

a.        Alat dan bahan

Alat yang digunakan pada perbanyakan Paenibacillus polymyxa adalah panci, kompor gas, baskom, pasahan/pisau, aerator, selang, botol, dan galon. Sedangkan bahan yang digunakan adalah kentang (60 kg), air (40 liter), dan gula (500 g).


b.        Prosedur Kerja

  1. Kupas kentang dan cuci hingga bersih. Kemudian potong kentang kecil-kecil menggunakan pasah/pisau lalu letakan ke dalam baskom dan cuci kembali hingga bersih.
  2.     Masukan kentang tadi ke dalam panci dan ditambahkan 40 liter air. Rebus bersamaan hingga kentang empuk.
  3.      Setelah empuk, saring dan pisahkan kentang dari air rebusannya.
  4.      Ambil air rebusan kentang tadi dan rebus kembali hingga mendidih.
  5.      Setelah mendidih tambahkan gula 500 g dan aduk hingga merata.
  6.      Kemudian setelah tercampur semua akan didapat hasil Ekstrak Kentang Gula (EKG), lalu masukan kedalam galon/jerigen untuk didinginkan dan inkubasi

(2)     Inkubasi Paenibacillus polymyxa pada media EKG

Setelah media dingin didalam inkubator (galon/jerigen), selanjutnya isolasi menggunakan stater Paenibacillus polymyxa. Stater Paenibacillus polymyxa didapat dari hasil eksplorasi tim agen hayati Balai Besar Peramalan Organisme Penganggu Tumbuhan, Jatisari, Karawang pada akar tanaman jagung dan diperbanyak dalam tabung reaksi (test tube). 1 tabung reaksi (test tube) Paenibacillus polymyxa untuk 10 liter air. Ambil aqua dan isi menggunakan air, lalu hubungkan selang dari inkubator ke aerator dan botol aqua. Hubungkan aerator ke sumber arus listrik. Inkubasi Paenibacillus polymyxa selama 7-14 hari setelah itu siap digunakan.

B. Perbanyakan Trichoderma Harzianum

Perbanyakan Trichoderma harzianum meliputi tahap-tahap sebagai berikut:

a.        Alat dan bahan

Alat-alat yang digunakan pada perbanyakan Trichoderma harzianum adalah panci, kompor gas, tampah, nampan, centong, gelas ukur, dan semprotan. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan yaitu alkohol, dedak, serbuk gergaji, air, dan stater Trichoderma harzianum.



b. Prosedur kerja

  1.        Campurkan dedak dan serbuk gergaji dengan perbandingan 1:1 dan letakan pada tampah.
  2.      Tambahkan air mencapai kapasitas lapang dan aduk hingga tercampur semuanya.
  3.      Rebus air didalam panci hingga mendidih dan kukus bahan bahan tadi selama 1 jam setelah mendidih.
  4.      Setelah 1 jam dikukus lalu dinginkan dalam tampah dan nampan.
  5.     Siapkan stater Trichoderma harzianum yang sudah diencerkan dalam 500 ml air dan masukan kedalam semprotan.
  6.     Semprotkan pada media tadi secara merata dan diaduk.
  7.    Setelah semua media telah diinokulasi dengan Trichoderma harzianum tutup menggunakan kertas koran dan lihat hasilnya setelah 1 minggu.
  8.     Setelah 1 minggu Trichoderma harzianum siap digunakan.


=
===== SEMOGA BERMANFAAT =====
===== TERIMAKASIH =====





Senin, 27 September 2021

Hama dan Penyakit Ini Yang Menyerang Petani di Lampung !!!

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADI - Dalam budidaya tanaman padi, maka tidak akan terlepas dari ancaman hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman tersebut.Serangan hama dan penyakit apabila dalam pengendaliannya kurang tepat, maka dapat menurunkan produktivitas dari tanaman padi tersebut. 

Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan petani untuk bisa mengenal jenis-jenis hama dan penyakit tanaman padi agar petani mampu mengidentifikasi dan menerapkan pengendalian secara tepat, cepat, dan akurat.Dengan terkendalinya serangan hama dan penyakit, maka tujuan dari kegiatan budidaya akan tercapai.

Hama adalah hewan yang biasanya menyerang atau menggangu tanaman, sehingga tanaman tersebut tidak bisa tumbuh dan berkembang dengan optimal. Sedangkan penyakit tanaman padi umumnya disebabkan oleh mikroorganisme berupa virus, bakteri dan jamur. 

Ada berbagai macam hama dan penyakit tanaman yang menjadi momok bagi para petani atau peladang.Hama dan penyakit tanaman padi perlu dikenali agar dapat ditangani. Apalagi, jika tidak segera ditangani, petani akan mengalami kerugian besar karena masalah hama dan penyakit tanaman yang menyerang perkebunan atau pertanian mereka.



1. TIKUS

Salah satu hama yang paling banyak merugikan petani adalah tikus.Hal ini disebabkan karena tikus memiliki mobilitas yang tinggi serta daya adaptasi dan perkembangbiakan yang juga sangat tinggi.  Tikus biasanya menyerang tanaman padi, dan sering bergerak pada malam hari. Biasanya target utama tikus dalam menyerang padi adalah biji dan batangnya. Dengan giginya yang tajam, tikus dapat memakan biji-bijian padi. Biasanya tikus membuat lubang didekat sawah dan bersembunyi diantara semak-semak.

Kerusakan tanaman yang di akibat serangan tikus sangat besar, karena menyerang tanaman sejak di pertanaman hingga menjelang panen.Berkaitan dengan hal tersebut, maka upaya pengendalian untuk menekan populasi tikus harus dilakukan terus menerus mulai dari saat pratanam hingga menjelang panen dengan menggunakan berbagai teknik secara terpadu.Peran serta dan kerjasama masyarakat / kelompok tani, penentu kebijakan dan tokoh masyarakat juga diperlukan selama proses pengendalian hama tikus.

Baca juga : Solusi pengendalian tikus 


BEBERAPA TEKNIK  PENGENDALIAN HAMA TIKUS

a) TBS (Trap Barrier System)

Pemagaran plastik yang mengelilingi petakan persemaian atau sawah yang dilengkapi perangkap bubu pada tiap jarak tertentu.

b) Gropyokan

Pengendalian dengan peralatan lengkap (pemukul,  emposan, jaring dan sebagainya) yang dilakukan oleh seluruh komponen masyarakat yang terkoordinir dan terencana dalam satu hamparan pertanaman yang luas

c) Pengumpanan

Pengumpanan racun tikus dengan rodentisida akut atau antikoagulan yang dicampur gabah atau beras kemudian diletakkan pada lalulintas tikus.

d) Pemasangan Jaring

Jaring dipasang pada salah satu sisi hamparan sawah, kemudian di sisi lain secara bersama-sama dilakukan penggiringan tikus dan di tepi jaring beberapa orang menunggu dengan alat pemukul.

e) Penggenangan

Penggenangan lobang-lobang tikus dilakukan pada  saat menjelang pembuatan persemaian.

f) Sanitasi

Membersihkan semak belukar/gulma, membongkar lobang tikus dan perbaikan pematang.

g) Pengendalian Hayati

Pengendalian menggunakan musuh alami seperti kucing, anjing dan burung hantu, ular dan lain lain

h) Pengaturan Pola Tanam

Pengaturan pola tanam yaitu dilakukan rotasi antara padi dan palawija dan pengaturan pola tanam secara serempak.


2. PENGGEREK BATANG

Penggerek batang padi adalah hama yang tergolong pengganggu utama. Hama ini menyerang tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman mulai dari persemaian hingga menjelang panen.

Pada tanaman padi fase vegetatif, larva memotong bagian tengah anakan menyebabkan pucuk layu, kering mati dan gejalanya disebut sundep. Gejala serangan pada fase generatif berupa malai muncul putih dan hampa yang biasa disebut dengan beluk.


Baca juga : Solusi kendalikan penggerek batang pada tanaman padi


BEBERAPA TEKNIK PENGENDALIAN PENGGEREK BATANG

a)Pengaturan Pola Tanam

-Tanam serentak untuk membatasi sumber makanan bagi penggerek batang padi.

-Rotasi tanaman padi dengan tanaman bukan padi untuk memutus siklus hidup hama.

-Pengaturan waktu tanam yaitu berdasarkan penerbangan ngengat atau populasi larva di tunggul padi. Tanam jangan bertepatan dengan puncak penerbangan ngengat.

-Tanam bisa dilakukan pada 15 hari sesudah puncak penerbangan ngengat generasi pertama dan atau 15 hari sesudah puncak penerbangan ngengat generasi berikutnya apabila generasi penggerek batang padi di lapangan overlap.


b)Pengendalian Secara Mekanik dan Fisik

-Cara mekanik dapat dilakukan dengan mengumpulkan kelompok telur penggerek batang padi di persemaian dan di pertanaman.

-Menangkap ngengat dengan light trap (untuk luas 50 ha cukup 1 light trap).

-Cara fisik yaitu dengan penyabitan tanaman serendah mungkin sampai permukaan tanah pada saat panen (disingkal). Usaha itu dapat pula diikuti penggenangan air setinggi 10 cm agar jerami atau pangkal jerami cepat membusuk sehingga larva atau pupa mati.


c)Pengendalian Hayati

-Pemanfaatan musuh alami parasitoid dengan melepas parasitoid telur seperti Trichogramma japonicum dengan dosis 20 pias/ha (1 pias = 2000-2500 telur terparasit) sejak awal pertanaman.


d)Pengendalian Secara Kimiawi

-Penggunaan insektisida dapat dilakukan bila sudah ditemukan 1 ekor ngengat pada light trap atau pertanaman, dan aplikasi insektisida sebaiknya dilakukan pada saat 4 hari setelah ditemukan 1 ekor ngengat pada light trap atau pertanaman tersebut.

-Penggunaan insektisida butiran di persemaian dilakukan jika disekitar pertanaman ada lahan yang sedang atau menjelang panen pada satu hari sebelum tanam.

-Pada pertanaman, insektisida butiran diberikan terutama pada stadium vegetatif dengan dosis 20 kg insektisida granule/ha. Pada stadium generatif aplikasi dengan insektisida yang disemprotkan (cair).

-Insektisida butiran yang direkomendasikan adalah insektisida yang mengandung bahan aktif karbofuran.

-Insektisida semprot (cair) yang direkomendasikan adalah insektisida yang mengandung bahan aktif spinetoram, klorantraniliprol, dan dimehipo.

-Hal-hal yang harus diperhatikan dalam aplikasi insektisida adalah: keringkan pertanaman sebelum aplikasi, aplikasi saat air embun tidak ada yaitu sekitar jam 8 -11 atau dilanjutkan pada sore hari ketika angin sudah tidak kencang, tepat dosis, tepat jenis, dan tepat air pelarut (sekitar 350-500 liter air/ha).


e)Pengendalian Preventif

-Sebagai tindakan preventif dalam pengendalian penggerek batang padi, memantau fluktuasi populasi penggerek batang padi perlu dilakukan secara rutin. Untuk memantau fluktuasi populasi penggerek batang padi yang berasal dari migrasi dapat menggunakan light trap.


3. WERENG COKLAT

Wereng coklat (Nilaparvata lugens) adalah salah satu hama padi yang paling berbahaya dan merugikan, terutama di Asia Tenggara dan Asia Timur. Serangga kecil ini menghisap cairan tumbuhan dan sekaligus juga menyebarkan beberapa virus (terutama reovirus) yang menyebabkan penyakit tungro). Kumbang lembing memakan wereng dan anaknya sedangkan sejumlah lebah berperan sebagai pemangsa telurnya. Pemangsa alami ini dapat mengendalikan populasi wereng di bawah batas ambang populasi wereng terutama musim tanam dengan jumlah hama sedikit sehingga mencegah berjangkitnya virus utama.

Beberapa faktor pendukung yang menyebabkan terjadinya serangan wereng coklat antara lain:

1. Kondisi lingkungan cuaca dimana musim kemarau tetapi masih turun hujan

2. Ketahanan varietas dimana dominasi suatu varietas tahan dalam jangka waktu lama 

3. Pola tanam padi-padi-padi (faktor ketersediaan air)

4. Keberadaan musuh alami (parasit, predator dan patogen)

5. Penggunaan pestisida kurang bijaksana karena tidak memenuhi kaidah 6 tepat (tepat jenis, sasaran, waktu, dosis, cara dan tempat)



Baca juga : Pengenalan dan pengendalian wereng coklat



BEBERAPA CARA PENGENDALIAN WERENG COKLAT


a) Cara Bercocok Tanam


Pada daerah yang kekurangan air dan bertanam padi hanya dapat dilakukan satu kali yaitu pada musim hujan, maka pergiliran tanaman dapat berjalan dengan sendirinya. Akan tetapi didaerah yang basah atau beririgasi teknis bertanam padi dapat dilakukan sepanjang tahun, sehingga pergiliran tanaman sulit dilakukan dan petani cenderung untuk bertanam padi secara terus menerus. Sehingga perlu ditekankan pergiliran tanaman dengan tanaman lain setelah tanaman padi.


Pada musim hujan sebaiknya ditanam varietas tahan terhadap wereng coklat, seperti Mekongga, Inpari 1, Inpari 2, Inpari 3, dan Inpari 13. Selanjutnya pengaturan jarak tanam, yaitu tanaman ditanam dalam barisan yang teratur dengan jarak tanam sesuai dengan kondisi agroekosistem setempat agar dapat yang dianjurkan untuk memperlancar gerakan angin dan cahaya matahari masuk ke dalam pertanaman. Hal ini dapat mengubah iklim mikro yang cocok untuk menekan perkembangan wereng coklat.



b) Rotasi/pergiliran Varietas

Pergiliran Varietas Tahan Varietas yang dianjurkan untuk ditanam saat ini adalah Inpari1, Inpari 2, Inpari 3, dan Inpari 13 secara bergiliran. Varietas-varietas tersebut memiliki ketahanan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan 3. Namun apabila salah satu varietas tersebut ditanam secara terus menerus sepanjang tahun pada satu wilayah, maka varietas tersebut akan menjadi rentan (contoh Varietas Ciherang). Pengendalian Biologi Pengendalian biologi dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan musuh alami. Musuh alami yang dapat mengendalikan hama wereng coklat adalah parasitoid, predator dan patogen.


c) Pengendalian Biologi


Pengendalian biologi dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan musuh alami. Musuh alami yang dapat mengendalikan hama wereng coklat adalah parasitoid, predator dan patogen.

Parasitoid telur seperti Anagrus flaveolus waterhouse, A. Optabilis Perkins, A. Perforator Perkins, Mymar tabrobanicum, Polynema spp., Olygosita, spp., dan Gonatocerus spp. Parasitoid ini dapat memparasitasi telur wereng coklat 45- 87%. Parasitoid nimfa dan wereng dewasa seperti Elenchus, spp., dan Haplogonatopus orientalis.


Predator wereng coklat seperti Cytorrhinus lividivennis, Microvelia douglasi, Ophionea indica, dan Paedorus fuscipes, laba-laba Lycosa pseudoannulata (Wolf spider), Tetragnatha sp. (four spider), Clubiona javonicola (sack spider), Araneus inustus (orb spider), Calitrichia formosana, Oxyopes javanus, dan Argiope catenulata. Patogen seperti Enthomopthora sp. Salah satu penyebab terjadinya penambahan populasi hama wereng coklat adalah kematian musuh alami akibat penggunaan insektisida berspektrum luas. 


Dengan demikian harus ada upaya agar musuh alami menetap atau menjadi efektif dalam mengendalikan hama. Penggunaan musuh alami, walaupun tidak dilakukan dengan inundasi (penambahan populasi ke lapangan), dapat juga dilakukan dengan meningkatkan peranan musuh alami yang sudah ada dilapangan. Peningkatan peranan musuh alami dilakukan dengan monitoring untuk menentukan parasitasi dan predatasinya. Oleh karena itu pada saat aplikasi 13 insektisida harus sudah diperhitungkan banyaknya musuh alami di pertanaman.



d) Pengendalian Kimiawi


Penggunaan Pestisida Dalam budidaya pertanian modern, pestisida merupakan sarana pengendalian yang diperlukan. Akan tetapi karena pada umumnya sifat dari pestisida tidak spesifik penggunaannya, jadi harus digunakan secara hati-hati. Dalam sistem pengendalian terpadu, pestisida merupakan komponen terakhir untuk pengendalian. Dalam hal ini jenis, waktu, formulasi dan cara aplikasi merupakan hal yang harus diperhatikan, sehingga kompatibel dengan komponen lain dan tidak mencemari lingkungan. Apabila dikendalikan dengan insektisida, maka diusahakan agar jangan menggunakan insektisida yang mengandung bahan aktif Cypermethrin, karena akan menimbulkan resurgensi dan resistensi wereng coklat.


Beberapa jenis pestisida yang dapat digunakan pada saat ini diantaranya adalah yang berbahan akti: Fipronil, Tiamektosam, Imidakloprid, Dinotefuran, Nytenpiram, Buprofezin, dll. Namun Penggaruh samping penggunaan insektisida yang tidak tepat dan dilakukan secara terus menerus dapat mengakibatkan resistensi, resurjensi dan kematian musuh alami



4. BERCAK DAUN DAN PATAH LEHER

baca juga : Penyakit bercak daun dan patah leher 


Penyakit bercak daun coklat tersebar di negara-negara penghasil padi di Asia dan di Afrika. Di Indonesia, penyakit ini banyak ditemukan pada pertanaman padi terutama di tanah-tanah marginal yang kurang subur, atau kahat unsur hara tertentu.

Penyakit ini dapat menyerang pada saat persemaian dan dapat mengakibatkan tanaman mati karena busuk pada koleoptil, batang dan akar. Serangan juga dapat terjadi pada daun dan bulir, apabila bulir padi terserang maka mutunya akan menurun.

Gejala yang paling umum dari penyakit ini adalah adanya bercak berwarna coklat tua, berbentuk oval sampai bulat, berukuran sebesar biji wijen, pada permukaan daun, pada pelepah atau pada gabah. Gajala khas penyakit ini adalah adanya bercak coklat pada daun berbentuk oval yang merata di permukaan daun dengan titik tengah berwarna abu-abu atau putih. Titik abu-abu di tengah bercak merupakan gejala khas penyakit bercak daun coklat di lapang. Bercak yang masih muda berwarna coklat gelap atau keunguan berbentuk bulat. Pada varietas yang peka panjang bercak dapat mencapai panjang 1 cm.

Bercak terutama pada daun, tetapi dapat pula terjadi pada tangkai malai, bulir, dan batang. Bercak muda berbentuk bulat kecil, berwarna coklat gelap. Bercak yang sudah tua berukuran lebih besar (0,4 - 1 cm x 0,1 – 0,2 cm), berwarna coklat pada pusat kelabu. Kebanyakan bercak mempunyai warna kuning di sekelilingnya. Dan bila serangan menghebat seluruh permukaan bulir dapat tertutup massa konidia dan tangkainya. Pada serangan berat, jamur daopat menginfeksi gabah dengan gejala bercak berwarna hitam atau coklat gelap pada gabah. Serangan berat pada daun dapat mengakibatkan daun mengering.

Penyakit bercak daun coklat (Brown Leaf Spot) pada tanaman padi (oryza sativa L.) ini disebabkan oleh Jamur Pyricularia oryzae atau Pyricularia Grisea . Konidia ini berwarna coklat, bersekat 6-17, berbentuk silindris, agak melengkung, dan bagian tengahnya agak melebar.

Jamur Pyricularia oryzae dan Pyricularia Grisea menginfeksi daun, baik melalui stomata maupun menembus langsung dinding sel epidermis setelah membentuk apresoria. Konidia lebih banyak dihasilkan oleh bercak yang sudah berkembang (besar) kemudian konidia dihembuskan oleh angin dan menimbulkan infeksi sekender.

Jamur dapat bertahan sampai 3 tahun pada jaringan tanaman dan lamanya bertahan sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. Patogen penyakit bersifat terbawa benih, sehingga dalam keadaan yang sesuai penyakit dapat berkembang pada tanaman yang masih muda.


baca juga : Fungisida pengendali bercak daun dan patah leher


BEBERAPA PENGENDALIAN BERCAK DAUN DAN PATAH LEHER

a) Jarak tanam yang tidak terlalu rapat terutama saat musim hujan.

b) Jika perlu gunakan cara tanam sistem legowo.Jangan gunakan urea yang berlebih dan imbangi dengan unsur K.

c) Aplikasi fungisida pada daun tanaman padi, contoh: antracol,Blast, Filia, dithane, dan fungisida kontak lain sebagai pencegahnya. Jika sudah terserang gunakan fungisida sistemik seperti score, anvil, folicur, Nativo, opus, indar dll.Penanaman varietas tahan, seperti Ciherang dan Membrano.

d) Pemupukan berimbang yang lengkap, yaitu 250 kg urea, 100 kg SP36, dan 100 kg KCl per ha.

e) Penyemprotan fungisida dengan bahan aktif difenoconazol, azoxistrobin, belerang, difenokonazol, tebukonazol, karbendazim, metil tiofanat, atau klorotalonil.


Nah itulah beberapa hama dan penyakit yang menyerang pada tanaman padi...

Saya akhiri Wassalamualikum Wr. Wb...



SEMOGA BERMANFAAT :)

SALAM PETANI SUKSES !!!!!!!!!!!!!









Jumat, 06 Agustus 2021

SOLUSI KENDALIKAN PENYAKIT BLAS PADA TANAMAN PADI


Penyakit blas disebabkan oleh jamur Pyricularia Oryzae. Awalnya penyakit ini berkembang di pertanaman padi gogo, tetapi akhir-akhir ini sudah menyebar di lahan sawah irigasi.Jamur Pyricularia Oryzae dapat menginfeksi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi mulai dari persemaian sampai menjelang panen. Pada fase bibit dan pertumbuhan vegetatif tanaman padi,  Pyricularia Oryzae menginfeksi bagian daun dan menimbulkan gejala penyakit yang berupa bercak coklat berbentuk belah ketupat yang disebut blas daun. Pada fase pertumbuhan generatif tanaman padi, gejala penyakit blas berkembang pada tangkai/leher malai disebut blas leher. Perkembangan parah penyakit blas leher infeksinya dapat mencapai bagian gabah dan patogennya dapat terbawa gabah sebagai patogen tular benih (seed borne).

Penyakit blas leher juga sering disebut busuk leher, patah leher, tekek (jawa Tengah), kecekik (Jawa Barat). Penyakit blas juga dapat berkembang pada tanaman selain padi seperti gandum, sorgum dan spesies rumput-rumputan. Pada lingkungan yang kondusif, blas daun berkembang pesat dan kadang-kadang dapat menyebabkan kematian tanaman. Penyakit blas leher dapat menurunkan hasil secara nyata karena menyebabkan leher malai mengalami busuk atau patah sehingga proses pengisian malai terganggu dan banyak terbentuk bulir padi hampa. Gangguan penyakit  blas leher di daerah endemis sering menyebabkan tanaman padi menjadi puso, seperti yang terjadi di Lampung dan Sumatera Selatan.

Baca juga : Cara Pengendalian Blast pada Tanaman Padi

penyakit blas padi

FUNGISIDA BLAST 200SC

"Batang kokoh, Daun Lebih Hijau"

Fungisida protektif berbentuk pekatan suspensi berwarna Orange untuk mengendalikan penyakit blast Pyricularia oryzae dan Pyricularia grisea pada tanaman Padi. Efektif mengendalikan blast sejak awal dan mengurangi serangan blast pada saat bulir padi sudah keluar.

Bahan Aktif : Trisiklazol 200 200 g/l

Dosis           : 60 ml ( 2 Tutup Kemasan/Tanki)

Sasaran        : Blast daun, Blast Batang, Patah Leher



"Semoga Bermanfaat"

Rabu, 04 Agustus 2021

WERENG COKLAT (Nilaparvata Lugens)

SEKILAS TENTANG WERENG COKLAT

Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) merupakan kendala utama dalam peningkatan dan pengoptimalan produksi tanaman pangan. Salah satu OPT pada tanaman adalah hama. Saat ini hama wereng batang coklat (WBC) atau Nilaparvata lugens menjadi ancaman serius bagi tanaman padi di

Wereng coklat (Nilaparvata lugens) adalah salah satu hama padi yang paling berbahaya dan merugikan, terutama di Asia Tenggara dan Asia Timur. Serangga kecil ini menghisap cairan tumbuhan dan sekaligus juga menyebarkan beberapa virus (terutama reovirus) yang menyebabkan penyakit tungro). Kumbang lembing memakan wereng dan anaknya sedangkan sejumlah lebah berperan sebagai pemangsa telurnya. Pemangsa alami ini dapat mengendalikan populasi wereng di bawah batas ambang populasi wereng terutama musim tanam dengan jumlah hama sedikit sehingga mencegah berjangkitnya virus utama.


MENGENAL WERENG COKLAT

Dalam taksonomi hama, wereng batang coklat masuk kedalam Kelas: Insecta; Ordo Hemiptera; Famili Delphacidae; Genus Nilaparvata; Spesies: N. lugens dengan nama binomial Nilaparvata lugens (Stal).

Wereng batang coklat berkembangbiak secara sexual, masa pra peneluran 3-4 hari untuk brakiptera (bersayap kerdil) dan 3-8 hari untuk makroptera (bersayap panjang). Telur biasanya diletakkan pada jaringan pangkal pelepah daun, tetapi kalau populasinya tinggi telur diletakkan di ujung pelepah dan tulang daun.

Telur diletakkan berkelompok, satu kelompok telur terdiri dari 3-21 butir.  Satu ekor betina  mampu  meletakkan  telur  100-500  butir. Telur menetas setelah 7-10 hari. Muncul wereng muda yang disebut nimfa dengan masa hidup 12-15 hari dan setelah fase ini menjadi wereng dewasa.

Dalam perkembangan hidupnya, wereng batang coklat mempunyai tiga stadium pertumbuhan yaitu stadium telur, nimfa dan dewasa. Gambar berikut menjelaskan siklus hidup hama wereng batang coklat pada suatu daerah tertentu :

 

 


Nimfa mengalami lima instar, dan rata-rata waktu yang diperlukan untuk  menyelesaikan periode nimfa adalah 12.82 hari.

Nimfa dapat berkembang menjadi dua bentuk wereng dewasa. Bentuk pertama adalah makroptera (bersayap panjang) yaitu wereng batang coklat yang mempunyai sayap depan dan sayap belakng normal.  Bentuk kedua adalah brakiptera (bersayap kerdil) yaitu wereng batang coklat dewasa yang mempunyai sayap depan dan sayap belakang tumbuh tidak normal, terutama sayap belakang sangat rudimenter.

Pada daerah lain stadium telur membutuhkan waktu antara 7-11 hari. Nimfa yang baru menetas berwarna keputihan dan berangsur menjadi coklat. Stadium nimfa terjadi 5 kali pergantian kulit dan waktu yang dibutuhkan pada masing-masing instar adalah 2-4 hari (lihat gambar 2) Wereng batang coklat dewasa mempunyai dua bentuk, sayap panjang (makroptera) dan sayap pendek (brakiptera). Bentuk makroptera merupakan indikator populasi pendatang dan emigrasi, sedangkan brakiptera populasi penetap. Suhu optimum untuk perkembangan antara 18-280C.

 

Wereng Coklat

GEJALA DAN KERUSAKAN AKIBAT WERENG COKLAT

Tanaman padi yang terserang hama wereng coklat menunjukkan gejala menguning dan mengering dengan cepat. Umumnya gejala terlihat mengumpul pada satu lokasi dan melingkar (hopperburn). Selain sebagai hama, wereng coklat juga merupakan vektor (penular) penyakit virus kerdil rumput pada tanaman padi.

Kerusakan tanaman yang ditimbulkan akibat serangan wereng coklat bisa serius. Serangan 1 dan 4 ekor wereng coklat per batang pada periode anakan selama 30 hari dapat menurunkan hasil 35% dan 77%. Serangan 1 dan 4 ekor wereng coklat per batang pada masa bunting selama 30 hari dapat menurunkan hasil berturut-turut 20 % dan 37%. Serangan 4 ekor wereng coklat per batang pada masa pemasakan buah selama 30 hari dapat menurunkan hasil sebesar 28%. Apabila populasi tinggi, maka gejala kerusakan yang terlihat di lapangan, yaitu warna daun dan batang tanaman berubah menjadi kuning, kemudian berubah menjadi berwarna coklat jerami, dan akhirnya seluruh tanaman bagaikan disiram air panas berwarna kuning coklat dan mengering (hopperburn). Apabila menyerang pada fase generatif akan menyebabkan terjadinya puso (gagal panen).

Baca juga : Petunjuk Teknis Wereng Coklat

gambar 1. Wereng Coklat


Beberapa faktor pendukung yang menyebabkan terjadinya serangan wereng coklat antara lain:

1. Kondisi lingkungan cuaca dimana musim kemarau tetapi masih turun hujan

2. Ketahanan varietas dimana dominasi suatu varietas tahan dalam jangka waktu lama 

3. Pola tanam padi-padi-padi (faktor ketersediaan air)

4. Keberadaan musuh alami (parasit, predator dan patogen)

 5 Penggunaan pestisida kurang bijaksana karena tidak memenuhi kaidah 6 tepat (tepat jenis, sasaran, waktu, dosis, cara dan tempat)


PENGENDALIAN WERENG COKLAT

1. Cara Bercocok Tanam

Cara bercocok Tanam Cara bercocok tanam yang dianjurkan adalah: tanam serentak dalam satu wilayah, pergiliran tanaman, penggunaan varietas tahan dan sanitasi.

Pada daerah yang kekurangan air dan bertanam padi hanya dapat dilakukan satu kali yaitu pada musim hujan, maka pergiliran tanaman dapat berjalan dengan sendirinya. Akan tetapi didaerah yang basah atau beririgasi teknis bertanam padi dapat dilakukan sepanjang tahun, sehingga pergiliran tanaman sulit dilakukan dan petani cenderung untuk bertanam padi secara terus menerus. Sehingga perlu ditekankan pergiliran tanaman dengan tanaman lain setelah tanaman padi.

Pada musim hujan sebaiknya ditanam varietas tahan terhadap wereng coklat, seperti Mekongga, Inpari 1, Inpari 2, Inpari 3, dan Inpari 13. Selanjutnya pengaturan jarak tanam, yaitu tanaman ditanam dalam barisan yang teratur dengan jarak tanam sesuai dengan kondisi agroekosistem setempat agar dapat yang dianjurkan untuk memperlancar gerakan angin dan cahaya matahari masuk ke dalam pertanaman. Hal ini dapat mengubah iklim mikro yang cocok untuk menekan perkembangan wereng coklat.

2. Rotasi/pergiliran Varietas

Pergiliran Varietas Tahan Varietas yang dianjurkan untuk ditanam saat ini adalah Inpari1, Inpari 2, Inpari 3, dan Inpari 13 secara bergiliran. Varietas-varietas tersebut memiliki ketahanan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan 3. Namun apabila salah satu varietas tersebut ditanam secara terus menerus sepanjang tahun pada satu wilayah, maka varietas tersebut akan menjadi rentan (contoh Varietas Ciherang). Pengendalian Biologi Pengendalian biologi dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan musuh alami. Musuh alami yang dapat mengendalikan hama wereng coklat adalah parasitoid, predator dan patogen.

3. Pengendalian Biologi

Pengendalian biologi dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan musuh alami. Musuh alami yang dapat mengendalikan hama wereng coklat adalah parasitoid, predator dan patogen.

Parasitoid telur seperti Anagrus flaveolus waterhouse, A. Optabilis Perkins, A. Perforator Perkins, Mymar tabrobanicum, Polynema spp., Olygosita, spp., dan Gonatocerus spp. Parasitoid ini dapat memparasitasi telur wereng coklat 45- 87%. Parasitoid nimfa dan wereng dewasa seperti Elenchus, spp., dan Haplogonatopus orientalis.

Predator wereng coklat seperti Cytorrhinus lividivennis, Microvelia douglasi, Ophionea indica, dan Paedorus fuscipes, laba-laba Lycosa pseudoannulata (Wolf spider), Tetragnatha sp. (four spider), Clubiona javonicola (sack spider), Araneus inustus (orb spider), Calitrichia formosana, Oxyopes javanus, dan Argiope catenulata. Patogen seperti Enthomopthora sp. Salah satu penyebab terjadinya penambahan populasi hama wereng coklat adalah kematian musuh alami akibat penggunaan insektisida berspektrum luas. Dengan demikian harus ada upaya agar musuh alami menetap atau menjadi efektif dalam mengendalikan hama. Penggunaan musuh alami, walaupun tidak dilakukan dengan inundasi (penambahan populasi ke lapangan), dapat juga dilakukan dengan meningkatkan peranan musuh alami yang sudah ada dilapangan. Peningkatan peranan musuh alami dilakukan dengan monitoring untuk menentukan parasitasi dan predatasinya. Oleh karena itu pada saat aplikasi 13 insektisida harus sudah diperhitungkan banyaknya musuh alami di pertanaman.

4. Pengendalian Kimiawi

Penggunaan Pestisida Dalam budidaya pertanian modern, pestisida merupakan sarana pengendalian yang diperlukan. Akan tetapi karena pada umumnya sifat dari pestisida tidak spesifik penggunaannya, jadi harus digunakan secara hati-hati. Dalam sistem pengendalian terpadu, pestisida merupakan komponen terakhir untuk pengendalian. Dalam hal ini jenis, waktu, formulasi dan cara aplikasi merupakan hal yang harus diperhatikan, sehingga kompatibel dengan komponen lain dan tidak mencemari lingkungan. Apabila dikendalikan dengan insektisida, maka diusahakan agar jangan menggunakan insektisida yang mengandung bahan aktif Cypermethrin, karena akan menimbulkan resurgensi dan resistensi wereng coklat.

Beberapa jenis pestisida yang dapat digunakan pada saat ini diantaranya adalah yang berbahan akti: Fipronil, Tiamektosam, Imidakloprid, Dinotefuran, Nytenpiram, Buprofezin, dll. Namun Penggaruh samping penggunaan insektisida yang tidak tepat dan dilakukan secara terus menerus dapat mengakibatkan resistensi, resurjensi dan kematian musuh alami


Baca Juga : Insektisida Pengendali wereng coklat