Selasa, 23 Agustus 2022
Kamis, 18 Agustus 2022
HERBISIDA CORNBELT 336 SC - PT NUFARM INDONESIA | Petani Wajib Tau yang satu ini !!!!!!
Baaofficial - Salah satu kendala dalam budidaya tanaman pada saat ini yang banyak dikeluhkan petani yaitu masalah gulma. Gulma merupakan bagian integral dari suatu sistem pertanian (lingkungan), akan tetapi gulma menjadi salah satu kendala biologis utama (faktor pembatas) dalam proses produksi untuk memperoleh hasil yang tinggi sesuai dengan potensi hasil tanaman.
Gulma juga merupakan salah satu faktor pembatas yang mengganggu pertumbuhan tanaman dalam proses produksi karena gulma memiliki daya kompetisi yang lebih baik dibanding dengan tanaman budi daya. Kompetisi antara gulma terhadap tanaman budi daya dapat terjadi kapan saja, dan hal tersebut dapat berlangsung pad a berbagaitempat dan musim karena gulma memiliki daya adaptasi yang sangat baik dan luas pada berbagai kondisi (Kasasian, 1971).
Adanya persaingan (competition) antara tanaman pokok dan gulma, dilain pihak karena gulma umumnya memiliki daya saing yang lebih tinggi maka sebagian unsur-unsur hara yang tersedia di dalam tanah akan diserap oleh gulma. Akibatnya, unsur-unsur hara tersebut tidak tersedia bagi tanaman, atau kalaupun tersedia unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman jumlahnya tidak optimal/ terbatas atau tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Baca juga : Klasifikasi dan morfologi tanaman jagung
Pada era saat ini PT. Nufam Indonesia Meluncurkan Salah satu produk herbisida untuk mengendalikan masalah gulma.
Apa nama produknya ?? Bagaimana cara aplikasinya ?? Berapa harganya ???
Nah kali ini mimin akan bahas tentang salah satu produk teknologi baru dari PT Nufarm Indonesia yang akhir akhir ini sudah beredar dipasaran dan dikalangan petani indonesia.
Produk herbisida terbaru dari PT Nufarm Indonesia adalah dengan merk dagang CORNBELT 336 SC. Herbisida CORNBELT 336 SC merupakan Herbisida sistemik selektif pra tumbuh dan purna tumbuh berbentuk pekatan suspensi berwarna coklat muda, digunakan untuk mengendalikan gulma berdaun lebar, gulma golongan rumput dan teki pada tanaman Jagung.
Herbisida CORNBELT 336 SC memiliki keunggulan sebagai berikut :
1. Dengan kombinasi 3 bahan aktif (topramezone, atrazine, nikosulfuron) ditambah surfaktan
2. Memberantas semua jenis gulma pada berbagai umur gulma (muda dan tua)
3. Fleksibel untuk waktu aplikasi (14-30 HST), bisa diaplikasikan di berbagai umur Jagung dan gulma
4. Tanaman Jagung tetap tumbuh sehat
REKOMENDASI PENGGUNAAN
|
SASARAN/TARGET |
DOSIS/KONSENTRASI |
WAKTU APLIKASI |
|
Gulma daun lebar: |
75 – 150 ml |
|
Herbisida CORNBELT 336 SC ini juga sudah bereda ditoko-toko atau kios-kios pertanian setempat. untuk harganya bervariasi tergantung toko tersebut. Sobat Sobat petani Juga tidak perlu khawatir untuk mencoba produk ini karena sudah teruji dan aman untuk tanaman utama. Sobat- sobat petani juga bisa meminta kawalan pada saat akan aplikasi produk tersebut ke petugas lapang PT Nufarm Indonesia setempat.
Cek harga Herbisida dibawah ini
Video testimoni Pengguna Cornbelt 336 SC
https://studio.youtube.com/video/9U9shSng0k4/edit
JADILAH PETANI CERDAS DALAM MEMILIH PRODUK PRODUK PERTANIAN !!!
SALAM JAYA PETANI INDONESIA
===== SEMOGA BERMANFAAT =====
Senin, 27 September 2021
Hama dan Penyakit Ini Yang Menyerang Petani di Lampung !!!
HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADI - Dalam budidaya tanaman padi, maka tidak akan terlepas dari ancaman hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman tersebut.Serangan hama dan penyakit apabila dalam pengendaliannya kurang tepat, maka dapat menurunkan produktivitas dari tanaman padi tersebut.
Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan petani untuk bisa mengenal jenis-jenis hama dan penyakit tanaman padi agar petani mampu mengidentifikasi dan menerapkan pengendalian secara tepat, cepat, dan akurat.Dengan terkendalinya serangan hama dan penyakit, maka tujuan dari kegiatan budidaya akan tercapai.
Hama adalah hewan yang biasanya menyerang atau menggangu tanaman, sehingga tanaman tersebut tidak bisa tumbuh dan berkembang dengan optimal. Sedangkan penyakit tanaman padi umumnya disebabkan oleh mikroorganisme berupa virus, bakteri dan jamur.
Ada berbagai macam hama dan penyakit tanaman yang menjadi momok bagi para petani atau peladang.Hama dan penyakit tanaman padi perlu dikenali agar dapat ditangani. Apalagi, jika tidak segera ditangani, petani akan mengalami kerugian besar karena masalah hama dan penyakit tanaman yang menyerang perkebunan atau pertanian mereka.
1. TIKUS
Salah satu hama yang paling banyak merugikan petani adalah tikus.Hal ini disebabkan karena tikus memiliki mobilitas yang tinggi serta daya adaptasi dan perkembangbiakan yang juga sangat tinggi. Tikus biasanya menyerang tanaman padi, dan sering bergerak pada malam hari. Biasanya target utama tikus dalam menyerang padi adalah biji dan batangnya. Dengan giginya yang tajam, tikus dapat memakan biji-bijian padi. Biasanya tikus membuat lubang didekat sawah dan bersembunyi diantara semak-semak.
Kerusakan tanaman yang di akibat serangan tikus sangat besar, karena menyerang tanaman sejak di pertanaman hingga menjelang panen.Berkaitan dengan hal tersebut, maka upaya pengendalian untuk menekan populasi tikus harus dilakukan terus menerus mulai dari saat pratanam hingga menjelang panen dengan menggunakan berbagai teknik secara terpadu.Peran serta dan kerjasama masyarakat / kelompok tani, penentu kebijakan dan tokoh masyarakat juga diperlukan selama proses pengendalian hama tikus.
Baca juga : Solusi pengendalian tikus
BEBERAPA TEKNIK PENGENDALIAN HAMA TIKUS
a) TBS (Trap Barrier System)
Pemagaran plastik yang mengelilingi petakan persemaian atau sawah yang dilengkapi perangkap bubu pada tiap jarak tertentu.
b) Gropyokan
Pengendalian dengan peralatan lengkap (pemukul, emposan, jaring dan sebagainya) yang dilakukan oleh seluruh komponen masyarakat yang terkoordinir dan terencana dalam satu hamparan pertanaman yang luas
c) Pengumpanan
Pengumpanan racun tikus dengan rodentisida akut atau antikoagulan yang dicampur gabah atau beras kemudian diletakkan pada lalulintas tikus.
d) Pemasangan Jaring
Jaring dipasang pada salah satu sisi hamparan sawah, kemudian di sisi lain secara bersama-sama dilakukan penggiringan tikus dan di tepi jaring beberapa orang menunggu dengan alat pemukul.
e) Penggenangan
Penggenangan lobang-lobang tikus dilakukan pada saat menjelang pembuatan persemaian.
f) Sanitasi
Membersihkan semak belukar/gulma, membongkar lobang tikus dan perbaikan pematang.
g) Pengendalian Hayati
Pengendalian menggunakan musuh alami seperti kucing, anjing dan burung hantu, ular dan lain lain
h) Pengaturan Pola Tanam
Pengaturan pola tanam yaitu dilakukan rotasi antara padi dan palawija dan pengaturan pola tanam secara serempak.
2. PENGGEREK BATANG
Penggerek batang padi adalah hama yang tergolong pengganggu utama. Hama ini menyerang tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman mulai dari persemaian hingga menjelang panen.
Pada tanaman padi fase vegetatif, larva memotong bagian tengah anakan menyebabkan pucuk layu, kering mati dan gejalanya disebut sundep. Gejala serangan pada fase generatif berupa malai muncul putih dan hampa yang biasa disebut dengan beluk.
Baca juga : Solusi kendalikan penggerek batang pada tanaman padi
BEBERAPA TEKNIK PENGENDALIAN PENGGEREK BATANG
a)Pengaturan Pola Tanam
-Tanam serentak untuk membatasi sumber makanan bagi penggerek batang padi.
-Rotasi tanaman padi dengan tanaman bukan padi untuk memutus siklus hidup hama.
-Pengaturan waktu tanam yaitu berdasarkan penerbangan ngengat atau populasi larva di tunggul padi. Tanam jangan bertepatan dengan puncak penerbangan ngengat.
-Tanam bisa dilakukan pada 15 hari sesudah puncak penerbangan ngengat generasi pertama dan atau 15 hari sesudah puncak penerbangan ngengat generasi berikutnya apabila generasi penggerek batang padi di lapangan overlap.
b)Pengendalian Secara Mekanik dan Fisik
-Cara mekanik dapat dilakukan dengan mengumpulkan kelompok telur penggerek batang padi di persemaian dan di pertanaman.
-Menangkap ngengat dengan light trap (untuk luas 50 ha cukup 1 light trap).
-Cara fisik yaitu dengan penyabitan tanaman serendah mungkin sampai permukaan tanah pada saat panen (disingkal). Usaha itu dapat pula diikuti penggenangan air setinggi 10 cm agar jerami atau pangkal jerami cepat membusuk sehingga larva atau pupa mati.
c)Pengendalian Hayati
-Pemanfaatan musuh alami parasitoid dengan melepas parasitoid telur seperti Trichogramma japonicum dengan dosis 20 pias/ha (1 pias = 2000-2500 telur terparasit) sejak awal pertanaman.
d)Pengendalian Secara Kimiawi
-Penggunaan insektisida dapat dilakukan bila sudah ditemukan 1 ekor ngengat pada light trap atau pertanaman, dan aplikasi insektisida sebaiknya dilakukan pada saat 4 hari setelah ditemukan 1 ekor ngengat pada light trap atau pertanaman tersebut.
-Penggunaan insektisida butiran di persemaian dilakukan jika disekitar pertanaman ada lahan yang sedang atau menjelang panen pada satu hari sebelum tanam.
-Pada pertanaman, insektisida butiran diberikan terutama pada stadium vegetatif dengan dosis 20 kg insektisida granule/ha. Pada stadium generatif aplikasi dengan insektisida yang disemprotkan (cair).
-Insektisida butiran yang direkomendasikan adalah insektisida yang mengandung bahan aktif karbofuran.
-Insektisida semprot (cair) yang direkomendasikan adalah insektisida yang mengandung bahan aktif spinetoram, klorantraniliprol, dan dimehipo.
-Hal-hal yang harus diperhatikan dalam aplikasi insektisida adalah: keringkan pertanaman sebelum aplikasi, aplikasi saat air embun tidak ada yaitu sekitar jam 8 -11 atau dilanjutkan pada sore hari ketika angin sudah tidak kencang, tepat dosis, tepat jenis, dan tepat air pelarut (sekitar 350-500 liter air/ha).
e)Pengendalian Preventif
-Sebagai tindakan preventif dalam pengendalian penggerek batang padi, memantau fluktuasi populasi penggerek batang padi perlu dilakukan secara rutin. Untuk memantau fluktuasi populasi penggerek batang padi yang berasal dari migrasi dapat menggunakan light trap.
3. WERENG COKLAT
Wereng coklat (Nilaparvata lugens) adalah salah satu hama padi yang paling berbahaya dan merugikan, terutama di Asia Tenggara dan Asia Timur. Serangga kecil ini menghisap cairan tumbuhan dan sekaligus juga menyebarkan beberapa virus (terutama reovirus) yang menyebabkan penyakit tungro). Kumbang lembing memakan wereng dan anaknya sedangkan sejumlah lebah berperan sebagai pemangsa telurnya. Pemangsa alami ini dapat mengendalikan populasi wereng di bawah batas ambang populasi wereng terutama musim tanam dengan jumlah hama sedikit sehingga mencegah berjangkitnya virus utama.
Beberapa faktor pendukung yang menyebabkan terjadinya serangan wereng coklat antara lain:
1. Kondisi lingkungan cuaca dimana musim kemarau tetapi masih turun hujan
2. Ketahanan varietas dimana dominasi suatu varietas tahan dalam jangka waktu lama
3. Pola tanam padi-padi-padi (faktor ketersediaan air)
4. Keberadaan musuh alami (parasit, predator dan patogen)
5. Penggunaan pestisida kurang bijaksana karena tidak memenuhi kaidah 6 tepat (tepat jenis, sasaran, waktu, dosis, cara dan tempat)
Baca juga : Pengenalan dan pengendalian wereng coklat
BEBERAPA CARA PENGENDALIAN WERENG COKLAT
a) Cara Bercocok Tanam
Pada daerah yang kekurangan air dan bertanam padi hanya dapat dilakukan satu kali yaitu pada musim hujan, maka pergiliran tanaman dapat berjalan dengan sendirinya. Akan tetapi didaerah yang basah atau beririgasi teknis bertanam padi dapat dilakukan sepanjang tahun, sehingga pergiliran tanaman sulit dilakukan dan petani cenderung untuk bertanam padi secara terus menerus. Sehingga perlu ditekankan pergiliran tanaman dengan tanaman lain setelah tanaman padi.
Pada musim hujan sebaiknya ditanam varietas tahan terhadap wereng coklat, seperti Mekongga, Inpari 1, Inpari 2, Inpari 3, dan Inpari 13. Selanjutnya pengaturan jarak tanam, yaitu tanaman ditanam dalam barisan yang teratur dengan jarak tanam sesuai dengan kondisi agroekosistem setempat agar dapat yang dianjurkan untuk memperlancar gerakan angin dan cahaya matahari masuk ke dalam pertanaman. Hal ini dapat mengubah iklim mikro yang cocok untuk menekan perkembangan wereng coklat.
c) Pengendalian Biologi
Pengendalian biologi dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan musuh alami. Musuh alami yang dapat mengendalikan hama wereng coklat adalah parasitoid, predator dan patogen.
Parasitoid telur seperti Anagrus flaveolus waterhouse, A. Optabilis Perkins, A. Perforator Perkins, Mymar tabrobanicum, Polynema spp., Olygosita, spp., dan Gonatocerus spp. Parasitoid ini dapat memparasitasi telur wereng coklat 45- 87%. Parasitoid nimfa dan wereng dewasa seperti Elenchus, spp., dan Haplogonatopus orientalis.
Predator wereng coklat seperti Cytorrhinus lividivennis, Microvelia douglasi, Ophionea indica, dan Paedorus fuscipes, laba-laba Lycosa pseudoannulata (Wolf spider), Tetragnatha sp. (four spider), Clubiona javonicola (sack spider), Araneus inustus (orb spider), Calitrichia formosana, Oxyopes javanus, dan Argiope catenulata. Patogen seperti Enthomopthora sp. Salah satu penyebab terjadinya penambahan populasi hama wereng coklat adalah kematian musuh alami akibat penggunaan insektisida berspektrum luas.
Dengan demikian harus ada upaya agar musuh alami menetap atau menjadi efektif dalam mengendalikan hama. Penggunaan musuh alami, walaupun tidak dilakukan dengan inundasi (penambahan populasi ke lapangan), dapat juga dilakukan dengan meningkatkan peranan musuh alami yang sudah ada dilapangan. Peningkatan peranan musuh alami dilakukan dengan monitoring untuk menentukan parasitasi dan predatasinya. Oleh karena itu pada saat aplikasi 13 insektisida harus sudah diperhitungkan banyaknya musuh alami di pertanaman.
d) Pengendalian Kimiawi
Penggunaan Pestisida Dalam budidaya pertanian modern, pestisida merupakan sarana pengendalian yang diperlukan. Akan tetapi karena pada umumnya sifat dari pestisida tidak spesifik penggunaannya, jadi harus digunakan secara hati-hati. Dalam sistem pengendalian terpadu, pestisida merupakan komponen terakhir untuk pengendalian. Dalam hal ini jenis, waktu, formulasi dan cara aplikasi merupakan hal yang harus diperhatikan, sehingga kompatibel dengan komponen lain dan tidak mencemari lingkungan. Apabila dikendalikan dengan insektisida, maka diusahakan agar jangan menggunakan insektisida yang mengandung bahan aktif Cypermethrin, karena akan menimbulkan resurgensi dan resistensi wereng coklat.
Beberapa jenis pestisida yang dapat digunakan pada saat ini diantaranya adalah yang berbahan akti: Fipronil, Tiamektosam, Imidakloprid, Dinotefuran, Nytenpiram, Buprofezin, dll. Namun Penggaruh samping penggunaan insektisida yang tidak tepat dan dilakukan secara terus menerus dapat mengakibatkan resistensi, resurjensi dan kematian musuh alami
4. BERCAK DAUN DAN PATAH LEHER
baca juga : Penyakit bercak daun dan patah leher
Penyakit bercak daun coklat tersebar di negara-negara penghasil padi di Asia dan di Afrika. Di Indonesia, penyakit ini banyak ditemukan pada pertanaman padi terutama di tanah-tanah marginal yang kurang subur, atau kahat unsur hara tertentu.
Penyakit ini dapat menyerang pada saat persemaian dan dapat mengakibatkan tanaman mati karena busuk pada koleoptil, batang dan akar. Serangan juga dapat terjadi pada daun dan bulir, apabila bulir padi terserang maka mutunya akan menurun.
Gejala yang paling umum dari penyakit ini adalah adanya bercak berwarna coklat tua, berbentuk oval sampai bulat, berukuran sebesar biji wijen, pada permukaan daun, pada pelepah atau pada gabah. Gajala khas penyakit ini adalah adanya bercak coklat pada daun berbentuk oval yang merata di permukaan daun dengan titik tengah berwarna abu-abu atau putih. Titik abu-abu di tengah bercak merupakan gejala khas penyakit bercak daun coklat di lapang. Bercak yang masih muda berwarna coklat gelap atau keunguan berbentuk bulat. Pada varietas yang peka panjang bercak dapat mencapai panjang 1 cm.
Bercak terutama pada daun, tetapi dapat pula terjadi pada tangkai malai, bulir, dan batang. Bercak muda berbentuk bulat kecil, berwarna coklat gelap. Bercak yang sudah tua berukuran lebih besar (0,4 - 1 cm x 0,1 – 0,2 cm), berwarna coklat pada pusat kelabu. Kebanyakan bercak mempunyai warna kuning di sekelilingnya. Dan bila serangan menghebat seluruh permukaan bulir dapat tertutup massa konidia dan tangkainya. Pada serangan berat, jamur daopat menginfeksi gabah dengan gejala bercak berwarna hitam atau coklat gelap pada gabah. Serangan berat pada daun dapat mengakibatkan daun mengering.
Penyakit bercak daun coklat (Brown Leaf Spot) pada tanaman padi (oryza sativa L.) ini disebabkan oleh Jamur Pyricularia oryzae atau Pyricularia Grisea . Konidia ini berwarna coklat, bersekat 6-17, berbentuk silindris, agak melengkung, dan bagian tengahnya agak melebar.
Jamur Pyricularia oryzae dan Pyricularia Grisea menginfeksi daun, baik melalui stomata maupun menembus langsung dinding sel epidermis setelah membentuk apresoria. Konidia lebih banyak dihasilkan oleh bercak yang sudah berkembang (besar) kemudian konidia dihembuskan oleh angin dan menimbulkan infeksi sekender.
Jamur dapat bertahan sampai 3 tahun pada jaringan tanaman dan lamanya bertahan sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. Patogen penyakit bersifat terbawa benih, sehingga dalam keadaan yang sesuai penyakit dapat berkembang pada tanaman yang masih muda.
baca juga : Fungisida pengendali bercak daun dan patah leher
BEBERAPA PENGENDALIAN BERCAK DAUN DAN PATAH LEHER
a) Jarak tanam yang tidak terlalu rapat terutama saat musim hujan.
b) Jika perlu gunakan cara tanam sistem legowo.Jangan gunakan urea yang berlebih dan imbangi dengan unsur K.
c) Aplikasi fungisida pada daun tanaman padi, contoh: antracol,Blast, Filia, dithane, dan fungisida kontak lain sebagai pencegahnya. Jika sudah terserang gunakan fungisida sistemik seperti score, anvil, folicur, Nativo, opus, indar dll.Penanaman varietas tahan, seperti Ciherang dan Membrano.
d) Pemupukan berimbang yang lengkap, yaitu 250 kg urea, 100 kg SP36, dan 100 kg KCl per ha.
e) Penyemprotan fungisida dengan bahan aktif difenoconazol, azoxistrobin, belerang, difenokonazol, tebukonazol, karbendazim, metil tiofanat, atau klorotalonil.
Nah itulah beberapa hama dan penyakit yang menyerang pada tanaman padi...
Saya akhiri Wassalamualikum Wr. Wb...
SEMOGA BERMANFAAT :)
SALAM PETANI SUKSES !!!!!!!!!!!!!
Selasa, 31 Agustus 2021
FUNGISIDA BLAST 200 SC
KEGUNAAN DAN KEUNGGULAN FUNGISIDA BLAST 200 SC - Penyakit bercak daun coklat pada tanaman padi banyak di temui di negara-negara produsen padi. Di indonesia sendiri, penyakit bercak daun coklat pada tanaman padi juga banyak di temui.
Penyakit bercak daun coklat ini dapat menyerang pada saat persemaian yang mengakibatkan tanaman padi mati karena adanya pembusukan pada koleoptil, batang dan akar tanaman padi. Serangan ini juga bisa menyerang daun dan bulir padi.
Salah satu Fungisida yang sering digunakan adalah fungisida BLAST 200 SC.
Baca Juga : Cara ampuh Kendalikan bercak daun dan patah leher pada tanaman padi
DETAIL FUNGISIDA BLAST 200 SC
Merk Dagang : Blast 200 sc
Bahan Aktif : Trisiklazol 200 g/l
Dosis : 60 ml / tanki
Sasaran : Jamur Pyricularia Oryzae, Pyricularia Grisea, Xanthomonas sp.
Jenis : Fungisida
Produsen : PT. Agricon
KEUNGGULAN BLAST 200 SC
1. Berbentuk cairan pekatan berwarna coklat yang mudah larut dengan air.
2. Efektif mengendalikan penyakit blas daun dan blas batang sejak awal.
3. Efektif mengendalikan bercak pada saat bulir gabah sudah keluar.
4. Dapat dicampur dengan insektisida, fungisida, dan ZPT lainnya pada saat pengaplikasian.
keywoard : blast200sc, fungisida, bercak daun, patah leher
dapatkan harga menarik di https://shopee.co.id/shop/318222090/
TERIMAKASIH
SEMOGA BERMANFAAT :)
Senin, 30 Agustus 2021
INSEKTISIDA SPONTAN 400 SL
KEGUNAAN DAN KEUNGGULAN INSEKTISIDA SPONTAN 400 SL -Dalam mengendalikan hama ulat khususnya sundep dan beluk pada tanaman padi, kita akan merasa bingung.karena di pasaran sangat banyak jenis insektisida untuk hama ini dan memiliki keunggulan masing-masing.
Salah satu dari insektisida yang sering digunakan adalah insektisida Spontan 400 SL. Insektisida ini sudah lebih dari 20 tahun dipercaya dan digunakan oleh para petani untuk mengendalikan hama sundep dan beluk. Insektisida Spontan 400 SL, juga dapat digunakan untuk mengendalikan hama wereng, ulat grayak, ulat penggorok, dan jenis kutu-kutuan.
baca juga : Solusi kendalikan wereng coklat
Insektisida Spontan 400 SL adalah insektisida racun kontak dan lambung yang berbentuk pekatan dan dapat dilarutkan dengan air berwarna kuning untuk mengendalikan sundep dan beluk. Insektisida Spontan 400 SL berbahan aktif Dimehipi 400 g/l yang di produksi oleh PT.AGRICON.
DETAIL SPONTAN 400 SL
Merk dagang : Spontan 400 SL
Bahan Aktif : Dimehipo 400 g/l
Dosis : 100 - 200 ml/tanki
Sasaran : Sundep, Beluk, Ulat Penggulung daun, ulat grayak, ulat penggorok batang, wereng coklat, trips, belalang, walang sangit
Jenis : Insektisida
Produsen : PT. Agricon
KEUNGGULAN SPONTAN 400 SL
1. Berbentuk cairan pekat dan mudah dilarutkan dalam air.
2. Tidak berbau tajam sehingga dalam pengaplikasian tidak mengganggu pengguna.
3. Efektif unttuk mengendalikan sundep, beluk, wereng coklat, dan hama ulat lainnya pada tanaman padi dan perkebunan.
4. Dapat dicampur dengan fungisida dan insektisida lainnya dalam pengaplikasian.
5. Mengendalikan hama dengan cepat dan tuntas karena bekerja secara kontak dan lambung.
*Untuk informasi harga dan lainnya klik link di bawah ini
https://seller.shopee.co.id/portal/product/list/all
Terimakasih Semoga bermanfaat ........ :)
Jumat, 06 Agustus 2021
SOLUSI KENDALIKAN PENYAKIT BLAS PADA TANAMAN PADI
Penyakit blas disebabkan oleh jamur Pyricularia Oryzae. Awalnya penyakit ini berkembang di pertanaman padi gogo, tetapi akhir-akhir ini sudah menyebar di lahan sawah irigasi.Jamur Pyricularia Oryzae dapat menginfeksi pada semua fase pertumbuhan tanaman padi mulai dari persemaian sampai menjelang panen. Pada fase bibit dan pertumbuhan vegetatif tanaman padi, Pyricularia Oryzae menginfeksi bagian daun dan menimbulkan gejala penyakit yang berupa bercak coklat berbentuk belah ketupat yang disebut blas daun. Pada fase pertumbuhan generatif tanaman padi, gejala penyakit blas berkembang pada tangkai/leher malai disebut blas leher. Perkembangan parah penyakit blas leher infeksinya dapat mencapai bagian gabah dan patogennya dapat terbawa gabah sebagai patogen tular benih (seed borne).
Penyakit blas leher juga sering disebut busuk leher, patah leher, tekek (jawa Tengah), kecekik (Jawa Barat). Penyakit blas juga dapat berkembang pada tanaman selain padi seperti gandum, sorgum dan spesies rumput-rumputan. Pada lingkungan yang kondusif, blas daun berkembang pesat dan kadang-kadang dapat menyebabkan kematian tanaman. Penyakit blas leher dapat menurunkan hasil secara nyata karena menyebabkan leher malai mengalami busuk atau patah sehingga proses pengisian malai terganggu dan banyak terbentuk bulir padi hampa. Gangguan penyakit blas leher di daerah endemis sering menyebabkan tanaman padi menjadi puso, seperti yang terjadi di Lampung dan Sumatera Selatan.
Baca juga : Cara Pengendalian Blast pada Tanaman Padi
FUNGISIDA BLAST 200SC
"Batang kokoh, Daun Lebih Hijau"
Fungisida
protektif berbentuk pekatan suspensi berwarna Orange untuk mengendalikan
penyakit blast Pyricularia oryzae dan Pyricularia grisea pada tanaman
Padi. Efektif mengendalikan blast sejak awal dan mengurangi serangan blast
pada saat bulir padi sudah keluar.
Bahan
Aktif : Trisiklazol 200 200 g/l
Dosis : 60
ml ( 2 Tutup Kemasan/Tanki)
Sasaran : Blast daun, Blast Batang, Patah Leher
"Semoga Bermanfaat"
Rabu, 04 Agustus 2021
WERENG COKLAT (Nilaparvata Lugens)
SEKILAS TENTANG WERENG COKLAT
Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)
merupakan kendala utama dalam peningkatan dan pengoptimalan produksi tanaman
pangan. Salah satu OPT pada tanaman adalah hama. Saat ini hama wereng batang
coklat (WBC) atau Nilaparvata lugens menjadi ancaman serius
bagi tanaman padi di
Wereng coklat (Nilaparvata lugens) adalah salah satu hama padi yang paling
berbahaya dan merugikan, terutama di Asia Tenggara dan Asia Timur. Serangga
kecil ini menghisap cairan tumbuhan dan sekaligus juga menyebarkan beberapa
virus (terutama reovirus) yang menyebabkan penyakit tungro). Kumbang lembing
memakan wereng dan anaknya sedangkan sejumlah lebah berperan sebagai pemangsa
telurnya. Pemangsa alami ini dapat mengendalikan populasi wereng di bawah batas
ambang populasi wereng terutama musim tanam dengan jumlah hama sedikit sehingga
mencegah berjangkitnya virus utama.
Dalam taksonomi hama, wereng batang coklat masuk kedalam
Kelas: Insecta;
Ordo Hemiptera; Famili Delphacidae; Genus Nilaparvata;
Spesies: N. lugens dengan nama binomial Nilaparvata
lugens (Stal).
Wereng batang coklat berkembangbiak secara sexual, masa pra
peneluran 3-4 hari untuk brakiptera (bersayap kerdil) dan 3-8 hari untuk
makroptera (bersayap panjang). Telur biasanya diletakkan pada jaringan
pangkal pelepah daun, tetapi kalau populasinya tinggi telur diletakkan di ujung
pelepah dan tulang daun.
Telur diletakkan berkelompok, satu kelompok telur terdiri
dari 3-21 butir. Satu ekor betina mampu meletakkan
telur 100-500 butir. Telur menetas setelah 7-10 hari. Muncul wereng
muda yang disebut nimfa dengan masa hidup 12-15 hari dan setelah fase ini
menjadi wereng dewasa.
Dalam perkembangan hidupnya, wereng batang coklat mempunyai
tiga stadium pertumbuhan yaitu stadium telur, nimfa dan dewasa. Gambar
berikut menjelaskan siklus hidup hama wereng batang coklat pada suatu daerah
tertentu :
Nimfa mengalami lima instar, dan
rata-rata waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan periode nimfa adalah
12.82 hari.
Nimfa dapat berkembang menjadi dua bentuk wereng dewasa.
Bentuk pertama adalah makroptera (bersayap panjang) yaitu wereng batang coklat
yang mempunyai sayap depan dan sayap belakng normal. Bentuk kedua adalah
brakiptera (bersayap kerdil) yaitu wereng batang coklat dewasa yang mempunyai
sayap depan dan sayap belakang tumbuh tidak normal, terutama sayap belakang
sangat rudimenter.
Pada daerah lain stadium telur membutuhkan waktu antara 7-11
hari. Nimfa yang baru menetas berwarna keputihan dan berangsur menjadi coklat.
Stadium nimfa terjadi 5 kali pergantian kulit dan waktu yang dibutuhkan pada
masing-masing instar adalah 2-4 hari (lihat gambar 2) Wereng batang coklat
dewasa mempunyai dua bentuk, sayap panjang (makroptera) dan sayap pendek
(brakiptera). Bentuk makroptera merupakan indikator
populasi pendatang dan emigrasi, sedangkan brakiptera populasi
penetap. Suhu optimum untuk perkembangan antara 18-280C.
GEJALA DAN KERUSAKAN AKIBAT WERENG COKLAT
Tanaman padi yang terserang hama wereng coklat menunjukkan
gejala menguning dan mengering dengan cepat. Umumnya gejala terlihat mengumpul
pada satu lokasi dan melingkar (hopperburn). Selain sebagai hama, wereng coklat
juga merupakan vektor (penular) penyakit virus kerdil rumput pada tanaman padi.
Kerusakan tanaman yang
ditimbulkan akibat serangan wereng coklat bisa serius. Serangan 1 dan 4 ekor
wereng coklat per batang pada periode anakan selama 30 hari dapat menurunkan
hasil 35% dan 77%. Serangan 1 dan 4 ekor wereng coklat per batang pada masa
bunting selama 30 hari dapat menurunkan hasil berturut-turut 20 % dan 37%.
Serangan 4 ekor wereng coklat per batang pada masa pemasakan buah selama 30
hari dapat menurunkan hasil sebesar 28%. Apabila populasi tinggi, maka gejala
kerusakan yang terlihat di lapangan, yaitu warna daun dan batang tanaman
berubah menjadi kuning, kemudian berubah menjadi berwarna coklat jerami, dan
akhirnya seluruh tanaman bagaikan disiram air panas berwarna kuning coklat dan
mengering (hopperburn). Apabila menyerang pada fase generatif akan menyebabkan
terjadinya puso (gagal panen).
gambar 1. Wereng Coklat
Beberapa faktor pendukung yang menyebabkan
terjadinya serangan wereng coklat antara lain:
1. Kondisi lingkungan cuaca dimana musim kemarau
tetapi masih turun hujan
2. Ketahanan varietas dimana dominasi suatu varietas
tahan dalam jangka waktu lama
3. Pola tanam padi-padi-padi (faktor ketersediaan
air)
4. Keberadaan musuh alami (parasit, predator dan
patogen)
5 Penggunaan
pestisida kurang bijaksana karena tidak memenuhi kaidah 6 tepat (tepat jenis,
sasaran, waktu, dosis, cara dan tempat)
PENGENDALIAN WERENG COKLAT
1. Cara Bercocok Tanam
Cara bercocok Tanam Cara bercocok tanam yang dianjurkan
adalah: tanam serentak dalam satu wilayah, pergiliran tanaman, penggunaan
varietas tahan dan sanitasi.
Pada daerah yang kekurangan air dan bertanam padi
hanya dapat dilakukan satu kali yaitu pada musim hujan, maka pergiliran tanaman
dapat berjalan dengan sendirinya. Akan tetapi didaerah yang basah atau
beririgasi teknis bertanam padi dapat dilakukan sepanjang tahun, sehingga
pergiliran tanaman sulit dilakukan dan petani cenderung untuk bertanam padi
secara terus menerus. Sehingga perlu ditekankan pergiliran tanaman dengan
tanaman lain setelah tanaman padi.
Pada musim hujan sebaiknya ditanam varietas tahan
terhadap wereng coklat, seperti Mekongga, Inpari 1, Inpari 2, Inpari 3, dan
Inpari 13. Selanjutnya pengaturan jarak tanam, yaitu tanaman ditanam dalam
barisan yang teratur dengan jarak tanam sesuai dengan kondisi agroekosistem
setempat agar dapat yang dianjurkan untuk memperlancar gerakan angin dan cahaya
matahari masuk ke dalam pertanaman. Hal ini dapat mengubah iklim mikro yang
cocok untuk menekan perkembangan wereng coklat.
2. Rotasi/pergiliran Varietas
Pergiliran Varietas Tahan Varietas yang dianjurkan
untuk ditanam saat ini adalah Inpari1, Inpari 2, Inpari 3, dan Inpari 13 secara
bergiliran. Varietas-varietas tersebut memiliki ketahanan terhadap wereng
coklat biotipe 2 dan 3. Namun apabila salah satu varietas tersebut ditanam
secara terus menerus sepanjang tahun pada satu wilayah, maka varietas tersebut
akan menjadi rentan (contoh Varietas Ciherang). Pengendalian Biologi
Pengendalian biologi dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan musuh alami.
Musuh alami yang dapat mengendalikan hama wereng coklat adalah parasitoid,
predator dan patogen.
3. Pengendalian Biologi
Pengendalian biologi dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan musuh alami. Musuh alami yang dapat mengendalikan hama wereng coklat adalah parasitoid, predator dan patogen.
Parasitoid telur seperti Anagrus flaveolus waterhouse, A. Optabilis Perkins, A. Perforator Perkins, Mymar tabrobanicum, Polynema spp., Olygosita, spp., dan Gonatocerus spp. Parasitoid ini dapat memparasitasi telur wereng coklat 45- 87%. Parasitoid nimfa dan wereng dewasa seperti Elenchus, spp., dan Haplogonatopus orientalis.
Predator wereng coklat seperti Cytorrhinus
lividivennis, Microvelia douglasi, Ophionea indica, dan Paedorus fuscipes,
laba-laba Lycosa pseudoannulata (Wolf spider), Tetragnatha sp. (four spider),
Clubiona javonicola (sack spider), Araneus inustus (orb spider), Calitrichia
formosana, Oxyopes javanus, dan Argiope catenulata. Patogen seperti
Enthomopthora sp. Salah satu penyebab terjadinya penambahan populasi hama
wereng coklat adalah kematian musuh alami akibat penggunaan insektisida
berspektrum luas. Dengan demikian harus ada upaya agar musuh alami menetap atau
menjadi efektif dalam mengendalikan hama. Penggunaan musuh alami, walaupun
tidak dilakukan dengan inundasi (penambahan populasi ke lapangan), dapat juga
dilakukan dengan meningkatkan peranan musuh alami yang sudah ada dilapangan.
Peningkatan peranan musuh alami dilakukan dengan monitoring untuk menentukan
parasitasi dan predatasinya. Oleh karena itu pada saat aplikasi 13 insektisida
harus sudah diperhitungkan banyaknya musuh alami di pertanaman.
4.
Pengendalian Kimiawi
Penggunaan
Pestisida Dalam budidaya pertanian modern, pestisida merupakan sarana
pengendalian yang diperlukan. Akan tetapi karena pada umumnya sifat dari pestisida
tidak spesifik penggunaannya, jadi harus digunakan secara hati-hati. Dalam
sistem pengendalian terpadu, pestisida merupakan komponen terakhir untuk
pengendalian. Dalam hal ini jenis, waktu, formulasi dan cara aplikasi merupakan
hal yang harus diperhatikan, sehingga kompatibel dengan komponen lain dan tidak
mencemari lingkungan. Apabila dikendalikan dengan insektisida, maka diusahakan
agar jangan menggunakan insektisida yang mengandung bahan aktif Cypermethrin,
karena akan menimbulkan resurgensi dan resistensi wereng coklat.
Beberapa
jenis pestisida yang dapat digunakan pada saat ini diantaranya adalah yang
berbahan akti: Fipronil, Tiamektosam, Imidakloprid, Dinotefuran, Nytenpiram,
Buprofezin, dll. Namun Penggaruh samping penggunaan insektisida yang tidak
tepat dan dilakukan secara terus menerus dapat mengakibatkan resistensi,
resurjensi dan kematian musuh alami
Baca Juga : Insektisida Pengendali wereng coklat




















