Tampilkan postingan dengan label Budidaya Tanaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budidaya Tanaman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Agustus 2022

CARA PERBANYAKAN AGENS HAYATI PAENIBACILLUS POLYMYXA DAN TRICHODERMA HARZIANUM

Baaofficial - OPT atau Organisme Penganggu Tumbuhan adalah semua organisme yang dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman utama termasuk didalamnya adalah, hama, penyakit, dan gulma. Apabila tanaman tersebut menjadi tempat hidup atau tempat berkembangbiaknya OPT maka tanaman tersebut akan mengalami kerusakan karena OPT dan menjadikan potensi hasil tanaman berkurang.

OPT pada tanaman jagung

Organisme Penggangu Tanaman (OPT) merupakan sebuah tantangan yang harus dihadapi oleh petani dalam berbudidaya pertanian. Hal ini harus menjadi perhatian khusus bagi para petani dalam meningkatkan keberlanjutan produksi pertanian sehingga mendapatkan potensi hasil yang maksimal.

Pengendalian OPT terdapat beberapa metode, yaitu :

1. Pengendalian secara Fisik

2. Pengendalian secara Mekanis

3. Pengendalian secara Kultur Teknis

4. Pengendalian secara Kimiawi

5. Pengendalian secara Biologi (Hayati)


Nah kali ini mimin akan membahas pengendalian secara biologi/hayati. Apa itu pengendalian secara biologi dan apa saja contohnya ???

Pengendalian secara biologi adalah salah satu cara pengendalian Organisme Penggangu Tumbuhan (OPT) oleh musuh alami atau agen hayati. Sedangkan agens hayati itu sendiri merupakan subspecies, spesies, varietas, semua jenis protozoa, serangga, bakteri, cendawan, virus serta organisme lainnya yang dalam tahap perkembangannya bisa dipergunakan untuk keperluan pengendalian hama dan penyakit atau organisme pengganggu tumbuhan.

Agen hayati yang banyak digunakan yaitu Paenibacillus polymyxa dan Trichoderma Harzianum. selanjutnya kita akan membahas cara perbanyakan kedua agens hayati ini..

A. Perbanyakan Paenibacillus polymyxa

(1)     Pembuatan media cair Ekstrak Kentang Gula (EKG)

a.        Alat dan bahan

Alat yang digunakan pada perbanyakan Paenibacillus polymyxa adalah panci, kompor gas, baskom, pasahan/pisau, aerator, selang, botol, dan galon. Sedangkan bahan yang digunakan adalah kentang (60 kg), air (40 liter), dan gula (500 g).


b.        Prosedur Kerja

  1. Kupas kentang dan cuci hingga bersih. Kemudian potong kentang kecil-kecil menggunakan pasah/pisau lalu letakan ke dalam baskom dan cuci kembali hingga bersih.
  2.     Masukan kentang tadi ke dalam panci dan ditambahkan 40 liter air. Rebus bersamaan hingga kentang empuk.
  3.      Setelah empuk, saring dan pisahkan kentang dari air rebusannya.
  4.      Ambil air rebusan kentang tadi dan rebus kembali hingga mendidih.
  5.      Setelah mendidih tambahkan gula 500 g dan aduk hingga merata.
  6.      Kemudian setelah tercampur semua akan didapat hasil Ekstrak Kentang Gula (EKG), lalu masukan kedalam galon/jerigen untuk didinginkan dan inkubasi

(2)     Inkubasi Paenibacillus polymyxa pada media EKG

Setelah media dingin didalam inkubator (galon/jerigen), selanjutnya isolasi menggunakan stater Paenibacillus polymyxa. Stater Paenibacillus polymyxa didapat dari hasil eksplorasi tim agen hayati Balai Besar Peramalan Organisme Penganggu Tumbuhan, Jatisari, Karawang pada akar tanaman jagung dan diperbanyak dalam tabung reaksi (test tube). 1 tabung reaksi (test tube) Paenibacillus polymyxa untuk 10 liter air. Ambil aqua dan isi menggunakan air, lalu hubungkan selang dari inkubator ke aerator dan botol aqua. Hubungkan aerator ke sumber arus listrik. Inkubasi Paenibacillus polymyxa selama 7-14 hari setelah itu siap digunakan.

B. Perbanyakan Trichoderma Harzianum

Perbanyakan Trichoderma harzianum meliputi tahap-tahap sebagai berikut:

a.        Alat dan bahan

Alat-alat yang digunakan pada perbanyakan Trichoderma harzianum adalah panci, kompor gas, tampah, nampan, centong, gelas ukur, dan semprotan. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan yaitu alkohol, dedak, serbuk gergaji, air, dan stater Trichoderma harzianum.



b. Prosedur kerja

  1.        Campurkan dedak dan serbuk gergaji dengan perbandingan 1:1 dan letakan pada tampah.
  2.      Tambahkan air mencapai kapasitas lapang dan aduk hingga tercampur semuanya.
  3.      Rebus air didalam panci hingga mendidih dan kukus bahan bahan tadi selama 1 jam setelah mendidih.
  4.      Setelah 1 jam dikukus lalu dinginkan dalam tampah dan nampan.
  5.     Siapkan stater Trichoderma harzianum yang sudah diencerkan dalam 500 ml air dan masukan kedalam semprotan.
  6.     Semprotkan pada media tadi secara merata dan diaduk.
  7.    Setelah semua media telah diinokulasi dengan Trichoderma harzianum tutup menggunakan kertas koran dan lihat hasilnya setelah 1 minggu.
  8.     Setelah 1 minggu Trichoderma harzianum siap digunakan.


=
===== SEMOGA BERMANFAAT =====
===== TERIMAKASIH =====





Senin, 27 September 2021

Hama dan Penyakit Ini Yang Menyerang Petani di Lampung !!!

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN PADI - Dalam budidaya tanaman padi, maka tidak akan terlepas dari ancaman hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman tersebut.Serangan hama dan penyakit apabila dalam pengendaliannya kurang tepat, maka dapat menurunkan produktivitas dari tanaman padi tersebut. 

Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan petani untuk bisa mengenal jenis-jenis hama dan penyakit tanaman padi agar petani mampu mengidentifikasi dan menerapkan pengendalian secara tepat, cepat, dan akurat.Dengan terkendalinya serangan hama dan penyakit, maka tujuan dari kegiatan budidaya akan tercapai.

Hama adalah hewan yang biasanya menyerang atau menggangu tanaman, sehingga tanaman tersebut tidak bisa tumbuh dan berkembang dengan optimal. Sedangkan penyakit tanaman padi umumnya disebabkan oleh mikroorganisme berupa virus, bakteri dan jamur. 

Ada berbagai macam hama dan penyakit tanaman yang menjadi momok bagi para petani atau peladang.Hama dan penyakit tanaman padi perlu dikenali agar dapat ditangani. Apalagi, jika tidak segera ditangani, petani akan mengalami kerugian besar karena masalah hama dan penyakit tanaman yang menyerang perkebunan atau pertanian mereka.



1. TIKUS

Salah satu hama yang paling banyak merugikan petani adalah tikus.Hal ini disebabkan karena tikus memiliki mobilitas yang tinggi serta daya adaptasi dan perkembangbiakan yang juga sangat tinggi.  Tikus biasanya menyerang tanaman padi, dan sering bergerak pada malam hari. Biasanya target utama tikus dalam menyerang padi adalah biji dan batangnya. Dengan giginya yang tajam, tikus dapat memakan biji-bijian padi. Biasanya tikus membuat lubang didekat sawah dan bersembunyi diantara semak-semak.

Kerusakan tanaman yang di akibat serangan tikus sangat besar, karena menyerang tanaman sejak di pertanaman hingga menjelang panen.Berkaitan dengan hal tersebut, maka upaya pengendalian untuk menekan populasi tikus harus dilakukan terus menerus mulai dari saat pratanam hingga menjelang panen dengan menggunakan berbagai teknik secara terpadu.Peran serta dan kerjasama masyarakat / kelompok tani, penentu kebijakan dan tokoh masyarakat juga diperlukan selama proses pengendalian hama tikus.

Baca juga : Solusi pengendalian tikus 


BEBERAPA TEKNIK  PENGENDALIAN HAMA TIKUS

a) TBS (Trap Barrier System)

Pemagaran plastik yang mengelilingi petakan persemaian atau sawah yang dilengkapi perangkap bubu pada tiap jarak tertentu.

b) Gropyokan

Pengendalian dengan peralatan lengkap (pemukul,  emposan, jaring dan sebagainya) yang dilakukan oleh seluruh komponen masyarakat yang terkoordinir dan terencana dalam satu hamparan pertanaman yang luas

c) Pengumpanan

Pengumpanan racun tikus dengan rodentisida akut atau antikoagulan yang dicampur gabah atau beras kemudian diletakkan pada lalulintas tikus.

d) Pemasangan Jaring

Jaring dipasang pada salah satu sisi hamparan sawah, kemudian di sisi lain secara bersama-sama dilakukan penggiringan tikus dan di tepi jaring beberapa orang menunggu dengan alat pemukul.

e) Penggenangan

Penggenangan lobang-lobang tikus dilakukan pada  saat menjelang pembuatan persemaian.

f) Sanitasi

Membersihkan semak belukar/gulma, membongkar lobang tikus dan perbaikan pematang.

g) Pengendalian Hayati

Pengendalian menggunakan musuh alami seperti kucing, anjing dan burung hantu, ular dan lain lain

h) Pengaturan Pola Tanam

Pengaturan pola tanam yaitu dilakukan rotasi antara padi dan palawija dan pengaturan pola tanam secara serempak.


2. PENGGEREK BATANG

Penggerek batang padi adalah hama yang tergolong pengganggu utama. Hama ini menyerang tanaman padi pada semua fase pertumbuhan tanaman mulai dari persemaian hingga menjelang panen.

Pada tanaman padi fase vegetatif, larva memotong bagian tengah anakan menyebabkan pucuk layu, kering mati dan gejalanya disebut sundep. Gejala serangan pada fase generatif berupa malai muncul putih dan hampa yang biasa disebut dengan beluk.


Baca juga : Solusi kendalikan penggerek batang pada tanaman padi


BEBERAPA TEKNIK PENGENDALIAN PENGGEREK BATANG

a)Pengaturan Pola Tanam

-Tanam serentak untuk membatasi sumber makanan bagi penggerek batang padi.

-Rotasi tanaman padi dengan tanaman bukan padi untuk memutus siklus hidup hama.

-Pengaturan waktu tanam yaitu berdasarkan penerbangan ngengat atau populasi larva di tunggul padi. Tanam jangan bertepatan dengan puncak penerbangan ngengat.

-Tanam bisa dilakukan pada 15 hari sesudah puncak penerbangan ngengat generasi pertama dan atau 15 hari sesudah puncak penerbangan ngengat generasi berikutnya apabila generasi penggerek batang padi di lapangan overlap.


b)Pengendalian Secara Mekanik dan Fisik

-Cara mekanik dapat dilakukan dengan mengumpulkan kelompok telur penggerek batang padi di persemaian dan di pertanaman.

-Menangkap ngengat dengan light trap (untuk luas 50 ha cukup 1 light trap).

-Cara fisik yaitu dengan penyabitan tanaman serendah mungkin sampai permukaan tanah pada saat panen (disingkal). Usaha itu dapat pula diikuti penggenangan air setinggi 10 cm agar jerami atau pangkal jerami cepat membusuk sehingga larva atau pupa mati.


c)Pengendalian Hayati

-Pemanfaatan musuh alami parasitoid dengan melepas parasitoid telur seperti Trichogramma japonicum dengan dosis 20 pias/ha (1 pias = 2000-2500 telur terparasit) sejak awal pertanaman.


d)Pengendalian Secara Kimiawi

-Penggunaan insektisida dapat dilakukan bila sudah ditemukan 1 ekor ngengat pada light trap atau pertanaman, dan aplikasi insektisida sebaiknya dilakukan pada saat 4 hari setelah ditemukan 1 ekor ngengat pada light trap atau pertanaman tersebut.

-Penggunaan insektisida butiran di persemaian dilakukan jika disekitar pertanaman ada lahan yang sedang atau menjelang panen pada satu hari sebelum tanam.

-Pada pertanaman, insektisida butiran diberikan terutama pada stadium vegetatif dengan dosis 20 kg insektisida granule/ha. Pada stadium generatif aplikasi dengan insektisida yang disemprotkan (cair).

-Insektisida butiran yang direkomendasikan adalah insektisida yang mengandung bahan aktif karbofuran.

-Insektisida semprot (cair) yang direkomendasikan adalah insektisida yang mengandung bahan aktif spinetoram, klorantraniliprol, dan dimehipo.

-Hal-hal yang harus diperhatikan dalam aplikasi insektisida adalah: keringkan pertanaman sebelum aplikasi, aplikasi saat air embun tidak ada yaitu sekitar jam 8 -11 atau dilanjutkan pada sore hari ketika angin sudah tidak kencang, tepat dosis, tepat jenis, dan tepat air pelarut (sekitar 350-500 liter air/ha).


e)Pengendalian Preventif

-Sebagai tindakan preventif dalam pengendalian penggerek batang padi, memantau fluktuasi populasi penggerek batang padi perlu dilakukan secara rutin. Untuk memantau fluktuasi populasi penggerek batang padi yang berasal dari migrasi dapat menggunakan light trap.


3. WERENG COKLAT

Wereng coklat (Nilaparvata lugens) adalah salah satu hama padi yang paling berbahaya dan merugikan, terutama di Asia Tenggara dan Asia Timur. Serangga kecil ini menghisap cairan tumbuhan dan sekaligus juga menyebarkan beberapa virus (terutama reovirus) yang menyebabkan penyakit tungro). Kumbang lembing memakan wereng dan anaknya sedangkan sejumlah lebah berperan sebagai pemangsa telurnya. Pemangsa alami ini dapat mengendalikan populasi wereng di bawah batas ambang populasi wereng terutama musim tanam dengan jumlah hama sedikit sehingga mencegah berjangkitnya virus utama.

Beberapa faktor pendukung yang menyebabkan terjadinya serangan wereng coklat antara lain:

1. Kondisi lingkungan cuaca dimana musim kemarau tetapi masih turun hujan

2. Ketahanan varietas dimana dominasi suatu varietas tahan dalam jangka waktu lama 

3. Pola tanam padi-padi-padi (faktor ketersediaan air)

4. Keberadaan musuh alami (parasit, predator dan patogen)

5. Penggunaan pestisida kurang bijaksana karena tidak memenuhi kaidah 6 tepat (tepat jenis, sasaran, waktu, dosis, cara dan tempat)



Baca juga : Pengenalan dan pengendalian wereng coklat



BEBERAPA CARA PENGENDALIAN WERENG COKLAT


a) Cara Bercocok Tanam


Pada daerah yang kekurangan air dan bertanam padi hanya dapat dilakukan satu kali yaitu pada musim hujan, maka pergiliran tanaman dapat berjalan dengan sendirinya. Akan tetapi didaerah yang basah atau beririgasi teknis bertanam padi dapat dilakukan sepanjang tahun, sehingga pergiliran tanaman sulit dilakukan dan petani cenderung untuk bertanam padi secara terus menerus. Sehingga perlu ditekankan pergiliran tanaman dengan tanaman lain setelah tanaman padi.


Pada musim hujan sebaiknya ditanam varietas tahan terhadap wereng coklat, seperti Mekongga, Inpari 1, Inpari 2, Inpari 3, dan Inpari 13. Selanjutnya pengaturan jarak tanam, yaitu tanaman ditanam dalam barisan yang teratur dengan jarak tanam sesuai dengan kondisi agroekosistem setempat agar dapat yang dianjurkan untuk memperlancar gerakan angin dan cahaya matahari masuk ke dalam pertanaman. Hal ini dapat mengubah iklim mikro yang cocok untuk menekan perkembangan wereng coklat.



b) Rotasi/pergiliran Varietas

Pergiliran Varietas Tahan Varietas yang dianjurkan untuk ditanam saat ini adalah Inpari1, Inpari 2, Inpari 3, dan Inpari 13 secara bergiliran. Varietas-varietas tersebut memiliki ketahanan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan 3. Namun apabila salah satu varietas tersebut ditanam secara terus menerus sepanjang tahun pada satu wilayah, maka varietas tersebut akan menjadi rentan (contoh Varietas Ciherang). Pengendalian Biologi Pengendalian biologi dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan musuh alami. Musuh alami yang dapat mengendalikan hama wereng coklat adalah parasitoid, predator dan patogen.


c) Pengendalian Biologi


Pengendalian biologi dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan musuh alami. Musuh alami yang dapat mengendalikan hama wereng coklat adalah parasitoid, predator dan patogen.

Parasitoid telur seperti Anagrus flaveolus waterhouse, A. Optabilis Perkins, A. Perforator Perkins, Mymar tabrobanicum, Polynema spp., Olygosita, spp., dan Gonatocerus spp. Parasitoid ini dapat memparasitasi telur wereng coklat 45- 87%. Parasitoid nimfa dan wereng dewasa seperti Elenchus, spp., dan Haplogonatopus orientalis.


Predator wereng coklat seperti Cytorrhinus lividivennis, Microvelia douglasi, Ophionea indica, dan Paedorus fuscipes, laba-laba Lycosa pseudoannulata (Wolf spider), Tetragnatha sp. (four spider), Clubiona javonicola (sack spider), Araneus inustus (orb spider), Calitrichia formosana, Oxyopes javanus, dan Argiope catenulata. Patogen seperti Enthomopthora sp. Salah satu penyebab terjadinya penambahan populasi hama wereng coklat adalah kematian musuh alami akibat penggunaan insektisida berspektrum luas. 


Dengan demikian harus ada upaya agar musuh alami menetap atau menjadi efektif dalam mengendalikan hama. Penggunaan musuh alami, walaupun tidak dilakukan dengan inundasi (penambahan populasi ke lapangan), dapat juga dilakukan dengan meningkatkan peranan musuh alami yang sudah ada dilapangan. Peningkatan peranan musuh alami dilakukan dengan monitoring untuk menentukan parasitasi dan predatasinya. Oleh karena itu pada saat aplikasi 13 insektisida harus sudah diperhitungkan banyaknya musuh alami di pertanaman.



d) Pengendalian Kimiawi


Penggunaan Pestisida Dalam budidaya pertanian modern, pestisida merupakan sarana pengendalian yang diperlukan. Akan tetapi karena pada umumnya sifat dari pestisida tidak spesifik penggunaannya, jadi harus digunakan secara hati-hati. Dalam sistem pengendalian terpadu, pestisida merupakan komponen terakhir untuk pengendalian. Dalam hal ini jenis, waktu, formulasi dan cara aplikasi merupakan hal yang harus diperhatikan, sehingga kompatibel dengan komponen lain dan tidak mencemari lingkungan. Apabila dikendalikan dengan insektisida, maka diusahakan agar jangan menggunakan insektisida yang mengandung bahan aktif Cypermethrin, karena akan menimbulkan resurgensi dan resistensi wereng coklat.


Beberapa jenis pestisida yang dapat digunakan pada saat ini diantaranya adalah yang berbahan akti: Fipronil, Tiamektosam, Imidakloprid, Dinotefuran, Nytenpiram, Buprofezin, dll. Namun Penggaruh samping penggunaan insektisida yang tidak tepat dan dilakukan secara terus menerus dapat mengakibatkan resistensi, resurjensi dan kematian musuh alami



4. BERCAK DAUN DAN PATAH LEHER

baca juga : Penyakit bercak daun dan patah leher 


Penyakit bercak daun coklat tersebar di negara-negara penghasil padi di Asia dan di Afrika. Di Indonesia, penyakit ini banyak ditemukan pada pertanaman padi terutama di tanah-tanah marginal yang kurang subur, atau kahat unsur hara tertentu.

Penyakit ini dapat menyerang pada saat persemaian dan dapat mengakibatkan tanaman mati karena busuk pada koleoptil, batang dan akar. Serangan juga dapat terjadi pada daun dan bulir, apabila bulir padi terserang maka mutunya akan menurun.

Gejala yang paling umum dari penyakit ini adalah adanya bercak berwarna coklat tua, berbentuk oval sampai bulat, berukuran sebesar biji wijen, pada permukaan daun, pada pelepah atau pada gabah. Gajala khas penyakit ini adalah adanya bercak coklat pada daun berbentuk oval yang merata di permukaan daun dengan titik tengah berwarna abu-abu atau putih. Titik abu-abu di tengah bercak merupakan gejala khas penyakit bercak daun coklat di lapang. Bercak yang masih muda berwarna coklat gelap atau keunguan berbentuk bulat. Pada varietas yang peka panjang bercak dapat mencapai panjang 1 cm.

Bercak terutama pada daun, tetapi dapat pula terjadi pada tangkai malai, bulir, dan batang. Bercak muda berbentuk bulat kecil, berwarna coklat gelap. Bercak yang sudah tua berukuran lebih besar (0,4 - 1 cm x 0,1 – 0,2 cm), berwarna coklat pada pusat kelabu. Kebanyakan bercak mempunyai warna kuning di sekelilingnya. Dan bila serangan menghebat seluruh permukaan bulir dapat tertutup massa konidia dan tangkainya. Pada serangan berat, jamur daopat menginfeksi gabah dengan gejala bercak berwarna hitam atau coklat gelap pada gabah. Serangan berat pada daun dapat mengakibatkan daun mengering.

Penyakit bercak daun coklat (Brown Leaf Spot) pada tanaman padi (oryza sativa L.) ini disebabkan oleh Jamur Pyricularia oryzae atau Pyricularia Grisea . Konidia ini berwarna coklat, bersekat 6-17, berbentuk silindris, agak melengkung, dan bagian tengahnya agak melebar.

Jamur Pyricularia oryzae dan Pyricularia Grisea menginfeksi daun, baik melalui stomata maupun menembus langsung dinding sel epidermis setelah membentuk apresoria. Konidia lebih banyak dihasilkan oleh bercak yang sudah berkembang (besar) kemudian konidia dihembuskan oleh angin dan menimbulkan infeksi sekender.

Jamur dapat bertahan sampai 3 tahun pada jaringan tanaman dan lamanya bertahan sangat dipengaruhi oleh keadaan lingkungan. Patogen penyakit bersifat terbawa benih, sehingga dalam keadaan yang sesuai penyakit dapat berkembang pada tanaman yang masih muda.


baca juga : Fungisida pengendali bercak daun dan patah leher


BEBERAPA PENGENDALIAN BERCAK DAUN DAN PATAH LEHER

a) Jarak tanam yang tidak terlalu rapat terutama saat musim hujan.

b) Jika perlu gunakan cara tanam sistem legowo.Jangan gunakan urea yang berlebih dan imbangi dengan unsur K.

c) Aplikasi fungisida pada daun tanaman padi, contoh: antracol,Blast, Filia, dithane, dan fungisida kontak lain sebagai pencegahnya. Jika sudah terserang gunakan fungisida sistemik seperti score, anvil, folicur, Nativo, opus, indar dll.Penanaman varietas tahan, seperti Ciherang dan Membrano.

d) Pemupukan berimbang yang lengkap, yaitu 250 kg urea, 100 kg SP36, dan 100 kg KCl per ha.

e) Penyemprotan fungisida dengan bahan aktif difenoconazol, azoxistrobin, belerang, difenokonazol, tebukonazol, karbendazim, metil tiofanat, atau klorotalonil.


Nah itulah beberapa hama dan penyakit yang menyerang pada tanaman padi...

Saya akhiri Wassalamualikum Wr. Wb...



SEMOGA BERMANFAAT :)

SALAM PETANI SUKSES !!!!!!!!!!!!!









Rabu, 04 Agustus 2021

WERENG COKLAT (Nilaparvata Lugens)

SEKILAS TENTANG WERENG COKLAT

Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) merupakan kendala utama dalam peningkatan dan pengoptimalan produksi tanaman pangan. Salah satu OPT pada tanaman adalah hama. Saat ini hama wereng batang coklat (WBC) atau Nilaparvata lugens menjadi ancaman serius bagi tanaman padi di

Wereng coklat (Nilaparvata lugens) adalah salah satu hama padi yang paling berbahaya dan merugikan, terutama di Asia Tenggara dan Asia Timur. Serangga kecil ini menghisap cairan tumbuhan dan sekaligus juga menyebarkan beberapa virus (terutama reovirus) yang menyebabkan penyakit tungro). Kumbang lembing memakan wereng dan anaknya sedangkan sejumlah lebah berperan sebagai pemangsa telurnya. Pemangsa alami ini dapat mengendalikan populasi wereng di bawah batas ambang populasi wereng terutama musim tanam dengan jumlah hama sedikit sehingga mencegah berjangkitnya virus utama.


MENGENAL WERENG COKLAT

Dalam taksonomi hama, wereng batang coklat masuk kedalam Kelas: Insecta; Ordo Hemiptera; Famili Delphacidae; Genus Nilaparvata; Spesies: N. lugens dengan nama binomial Nilaparvata lugens (Stal).

Wereng batang coklat berkembangbiak secara sexual, masa pra peneluran 3-4 hari untuk brakiptera (bersayap kerdil) dan 3-8 hari untuk makroptera (bersayap panjang). Telur biasanya diletakkan pada jaringan pangkal pelepah daun, tetapi kalau populasinya tinggi telur diletakkan di ujung pelepah dan tulang daun.

Telur diletakkan berkelompok, satu kelompok telur terdiri dari 3-21 butir.  Satu ekor betina  mampu  meletakkan  telur  100-500  butir. Telur menetas setelah 7-10 hari. Muncul wereng muda yang disebut nimfa dengan masa hidup 12-15 hari dan setelah fase ini menjadi wereng dewasa.

Dalam perkembangan hidupnya, wereng batang coklat mempunyai tiga stadium pertumbuhan yaitu stadium telur, nimfa dan dewasa. Gambar berikut menjelaskan siklus hidup hama wereng batang coklat pada suatu daerah tertentu :

 

 


Nimfa mengalami lima instar, dan rata-rata waktu yang diperlukan untuk  menyelesaikan periode nimfa adalah 12.82 hari.

Nimfa dapat berkembang menjadi dua bentuk wereng dewasa. Bentuk pertama adalah makroptera (bersayap panjang) yaitu wereng batang coklat yang mempunyai sayap depan dan sayap belakng normal.  Bentuk kedua adalah brakiptera (bersayap kerdil) yaitu wereng batang coklat dewasa yang mempunyai sayap depan dan sayap belakang tumbuh tidak normal, terutama sayap belakang sangat rudimenter.

Pada daerah lain stadium telur membutuhkan waktu antara 7-11 hari. Nimfa yang baru menetas berwarna keputihan dan berangsur menjadi coklat. Stadium nimfa terjadi 5 kali pergantian kulit dan waktu yang dibutuhkan pada masing-masing instar adalah 2-4 hari (lihat gambar 2) Wereng batang coklat dewasa mempunyai dua bentuk, sayap panjang (makroptera) dan sayap pendek (brakiptera). Bentuk makroptera merupakan indikator populasi pendatang dan emigrasi, sedangkan brakiptera populasi penetap. Suhu optimum untuk perkembangan antara 18-280C.

 

Wereng Coklat

GEJALA DAN KERUSAKAN AKIBAT WERENG COKLAT

Tanaman padi yang terserang hama wereng coklat menunjukkan gejala menguning dan mengering dengan cepat. Umumnya gejala terlihat mengumpul pada satu lokasi dan melingkar (hopperburn). Selain sebagai hama, wereng coklat juga merupakan vektor (penular) penyakit virus kerdil rumput pada tanaman padi.

Kerusakan tanaman yang ditimbulkan akibat serangan wereng coklat bisa serius. Serangan 1 dan 4 ekor wereng coklat per batang pada periode anakan selama 30 hari dapat menurunkan hasil 35% dan 77%. Serangan 1 dan 4 ekor wereng coklat per batang pada masa bunting selama 30 hari dapat menurunkan hasil berturut-turut 20 % dan 37%. Serangan 4 ekor wereng coklat per batang pada masa pemasakan buah selama 30 hari dapat menurunkan hasil sebesar 28%. Apabila populasi tinggi, maka gejala kerusakan yang terlihat di lapangan, yaitu warna daun dan batang tanaman berubah menjadi kuning, kemudian berubah menjadi berwarna coklat jerami, dan akhirnya seluruh tanaman bagaikan disiram air panas berwarna kuning coklat dan mengering (hopperburn). Apabila menyerang pada fase generatif akan menyebabkan terjadinya puso (gagal panen).

Baca juga : Petunjuk Teknis Wereng Coklat

gambar 1. Wereng Coklat


Beberapa faktor pendukung yang menyebabkan terjadinya serangan wereng coklat antara lain:

1. Kondisi lingkungan cuaca dimana musim kemarau tetapi masih turun hujan

2. Ketahanan varietas dimana dominasi suatu varietas tahan dalam jangka waktu lama 

3. Pola tanam padi-padi-padi (faktor ketersediaan air)

4. Keberadaan musuh alami (parasit, predator dan patogen)

 5 Penggunaan pestisida kurang bijaksana karena tidak memenuhi kaidah 6 tepat (tepat jenis, sasaran, waktu, dosis, cara dan tempat)


PENGENDALIAN WERENG COKLAT

1. Cara Bercocok Tanam

Cara bercocok Tanam Cara bercocok tanam yang dianjurkan adalah: tanam serentak dalam satu wilayah, pergiliran tanaman, penggunaan varietas tahan dan sanitasi.

Pada daerah yang kekurangan air dan bertanam padi hanya dapat dilakukan satu kali yaitu pada musim hujan, maka pergiliran tanaman dapat berjalan dengan sendirinya. Akan tetapi didaerah yang basah atau beririgasi teknis bertanam padi dapat dilakukan sepanjang tahun, sehingga pergiliran tanaman sulit dilakukan dan petani cenderung untuk bertanam padi secara terus menerus. Sehingga perlu ditekankan pergiliran tanaman dengan tanaman lain setelah tanaman padi.

Pada musim hujan sebaiknya ditanam varietas tahan terhadap wereng coklat, seperti Mekongga, Inpari 1, Inpari 2, Inpari 3, dan Inpari 13. Selanjutnya pengaturan jarak tanam, yaitu tanaman ditanam dalam barisan yang teratur dengan jarak tanam sesuai dengan kondisi agroekosistem setempat agar dapat yang dianjurkan untuk memperlancar gerakan angin dan cahaya matahari masuk ke dalam pertanaman. Hal ini dapat mengubah iklim mikro yang cocok untuk menekan perkembangan wereng coklat.

2. Rotasi/pergiliran Varietas

Pergiliran Varietas Tahan Varietas yang dianjurkan untuk ditanam saat ini adalah Inpari1, Inpari 2, Inpari 3, dan Inpari 13 secara bergiliran. Varietas-varietas tersebut memiliki ketahanan terhadap wereng coklat biotipe 2 dan 3. Namun apabila salah satu varietas tersebut ditanam secara terus menerus sepanjang tahun pada satu wilayah, maka varietas tersebut akan menjadi rentan (contoh Varietas Ciherang). Pengendalian Biologi Pengendalian biologi dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan musuh alami. Musuh alami yang dapat mengendalikan hama wereng coklat adalah parasitoid, predator dan patogen.

3. Pengendalian Biologi

Pengendalian biologi dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan musuh alami. Musuh alami yang dapat mengendalikan hama wereng coklat adalah parasitoid, predator dan patogen.

Parasitoid telur seperti Anagrus flaveolus waterhouse, A. Optabilis Perkins, A. Perforator Perkins, Mymar tabrobanicum, Polynema spp., Olygosita, spp., dan Gonatocerus spp. Parasitoid ini dapat memparasitasi telur wereng coklat 45- 87%. Parasitoid nimfa dan wereng dewasa seperti Elenchus, spp., dan Haplogonatopus orientalis.

Predator wereng coklat seperti Cytorrhinus lividivennis, Microvelia douglasi, Ophionea indica, dan Paedorus fuscipes, laba-laba Lycosa pseudoannulata (Wolf spider), Tetragnatha sp. (four spider), Clubiona javonicola (sack spider), Araneus inustus (orb spider), Calitrichia formosana, Oxyopes javanus, dan Argiope catenulata. Patogen seperti Enthomopthora sp. Salah satu penyebab terjadinya penambahan populasi hama wereng coklat adalah kematian musuh alami akibat penggunaan insektisida berspektrum luas. Dengan demikian harus ada upaya agar musuh alami menetap atau menjadi efektif dalam mengendalikan hama. Penggunaan musuh alami, walaupun tidak dilakukan dengan inundasi (penambahan populasi ke lapangan), dapat juga dilakukan dengan meningkatkan peranan musuh alami yang sudah ada dilapangan. Peningkatan peranan musuh alami dilakukan dengan monitoring untuk menentukan parasitasi dan predatasinya. Oleh karena itu pada saat aplikasi 13 insektisida harus sudah diperhitungkan banyaknya musuh alami di pertanaman.

4. Pengendalian Kimiawi

Penggunaan Pestisida Dalam budidaya pertanian modern, pestisida merupakan sarana pengendalian yang diperlukan. Akan tetapi karena pada umumnya sifat dari pestisida tidak spesifik penggunaannya, jadi harus digunakan secara hati-hati. Dalam sistem pengendalian terpadu, pestisida merupakan komponen terakhir untuk pengendalian. Dalam hal ini jenis, waktu, formulasi dan cara aplikasi merupakan hal yang harus diperhatikan, sehingga kompatibel dengan komponen lain dan tidak mencemari lingkungan. Apabila dikendalikan dengan insektisida, maka diusahakan agar jangan menggunakan insektisida yang mengandung bahan aktif Cypermethrin, karena akan menimbulkan resurgensi dan resistensi wereng coklat.

Beberapa jenis pestisida yang dapat digunakan pada saat ini diantaranya adalah yang berbahan akti: Fipronil, Tiamektosam, Imidakloprid, Dinotefuran, Nytenpiram, Buprofezin, dll. Namun Penggaruh samping penggunaan insektisida yang tidak tepat dan dilakukan secara terus menerus dapat mengakibatkan resistensi, resurjensi dan kematian musuh alami


Baca Juga : Insektisida Pengendali wereng coklat